Senin, 13 Juli 2015

Cerita Ramadhan dan drama pindah rumah (part 2)



Ternyata beginilah rasanya Ramadhan di negeri orang. luar biasa! Luar biasa kangen indonesia. ^^ Dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya, tanah air pastinya memang akan selalu buat kita kangen. Tahun ini adalah ramadhan pertama saya di Sudan bersama suami. Ada banyak hal yang terasa berbeda dengan ramadhan di negeri rantau, rasanya lebih menantang, saya pun mendapatkan banyak pengalaman baru, Meski suasananya tidak semeriah dan seheboh di Indonesia tapi tetap terasa hangat dihati. Masjid-Masjid di Sudan juga beragam, ada yang sholat tarawihnya membaca 1 juz, setengah, juz, atau kurang bahkan lebih dari itu. Banyak dari mahasiswa Indonesia yang laris manis menjadi imam di masjid-masjid. MaasyaAllah.

Sahur dan buka puasa menjadi momen yang sangat dinanti. Ramadhan tahun lalu di indonesia saya beserta reyhana yang bergantian menyiapkan makanan sahur untuk orang rumah, saat itu suami saya sedang di Sudan, maka tahun ini kewajiban saya kembali seperti semula, masak sahur dan buka puasa buat berdua saja. hehe. :p 

Kami juga sering menghadiri undangan ifthor jama’i baik yang diadakan oleh KBRI, PPI, organisasi, kekeluargaan, ataupun personal, saking seringnya saya sampai tidak bisa menghadiri semua. :D
Buka puasa bersama atau bukber ini juga sekaligus obat kangen akan tanah air, berhubung setiap bukber para WNI mulai dari mahasiswa-mahasiswi, home staff, local staff beserta keluarganya, hingga bapak dubes pun hadir. Disana kita bisa saling bercengkrama dan menikmati hidangan berbuka yang sederhana namun khas rasanya. :D seperti beberapa hari yang lalu saat saya lagi kangen makan rendang, tetiba ada undangan bukber di pip pks, ternyata setiba disana hidangan buka puasanya adalah rendang super pedas, Alhamdulillah, rezeki memang tidak kemana ya. Hoho

Di tengah suka cita di bulan ramadhan, saya lagi-lagi harus pindah rumah, hm..qaddarallah. ada beberapa alasan yang akhirnya mengharuskan kami kembali pindah. Jika dhitung-hitung, selama beberapa bulan terakhir ini, saya amat sangat sering packing. Dimulai dari sebelum berangkat ke Sudan oktober tahun lalu, pindah sementara ke rumah kakak saya, pindah kembali kerumah saya bersama suami, pindah rumah, dan kini pindah lagi. Ckck, dan karena suami saya sangat tidak bisa dalam hal packing, maka sayalah yang akhirnya mengepak barang-barang seorang diri. Tepar dah. -_-

Kami baru saja pindah dua hari yang lalu, proses angkat barangnya pun di malam hari yang kebetulan mati lampu, ckck. Alhamdulillah malam itu juga selesai pindahan, dibantu oleh mahasiswa teman-teman suami yang baik hati sekali mau membantu angkat barang dalam kegelapan. -_- malam itu setiba di rumah yang baru kami tempati, barang-barang berserakan memenuhi seluruh ruangan di dalam rumah, berhubung rumah yang sekarang ini unyu-unyu binti imut macam kamar kos-kosan, tapi entah kenapa saya justu lebih suka, merasa nyaman dan langsung bisa beradaptasi. Malam itu juga saya membereskan rumah semampu saya agar  paling tidak ada space untuk menaruh kasur, selebihnya saya kerjakan esok hari, hingga 2 hari kemudian sudah lumayan rapi dan bersih.. juga tepar! Ckckc asli tepar dan lemas. Pindah rumah di bulan puasa memang lumayan... :p

Malam ini, sehabis buka puasa dengan sepiring terang bulan atau martabak manis bikinan sendiri yang alhamdulillah rasanya sudah lumayan :P saya menyempatkan diri untuk sekedar merenggangkan jari-jari dengan mengetik sekilas cerita ramadhan tahun ini di Sudan.

beberapa hari ini, saya kangen berat sama yang namanya sirup DHT. Terbayang saat buka puasa di Makassar, es buah dengan sirup DHT adalah yang tidak pernah alpa. berbagai macam makanan khas indonesia berputar-putar dalam benak saya, berkali-kali saya berusaha menghilangkannya, tetap saja mereka nongkrong dengan asiknya di kepala saya. Ckck. Membayangkan kelezatan masakan ummi yang bagi saya tidak ada duanya malah membuat saya sakit kepala saja. -_- 

Buka puasa di Sudan juga tidak kalah nikmat sebenarnya, meski dengan masakan olahan sendiri yang terkadang masih rada-rada absurd, namun syukurnya tidak dikomentarin jelek oleh suami, soalnya suami saya tipe orang yang tidak terlalu cerewet (kadang juga bisa tiba-tiba cerewet) soal makanan, apalagi kalau lagi lapar piring juga dia makan. *eh :p

‘Alaa kulli haal, semuanya kita syukuri, tak ada yang lebih indah selain kesempatan melalui ramadhan itu sendiri. Tanpa terasa bulan yang di tunggu-tunggu, bulan yang sangat dirindukan, tidak lama lagi akan berakir. 2 Hari lagi kita memasuki 10 hari terakhir, bismillah... semoga Allah memberikan kekuatan buat kita semua menjalani hari-hari terkahir di bulan penuh berkah ini. Semoga kita semua di mampukan oleh Allah untuk melewati 10 hari terakhir ramadhan dengan sebaik-baiknya, dengan ibadah yang makin mantap, target murojaah tercapai, dengan hati penuh sukacita dan keikhlasan. Aamiin yaa rabbal ‘aalamiin..

Khartoum, 18 Ramadhan 1436 H

Aisyah Ikhwan Muhammad. J







1 komentar:

Unknown at: 19 Juli 2015 pukul 16.30 mengatakan...

Rabbii! masa piring jg di makan? y bneer aj syaaah :p

Posting Komentar

Who am i?

Foto saya
Khartoum, Al Khartoum, Sudan
Ikhwan's No.3 | Fakhrurrazi's 💍| Cintanya Al amin Muhammad| Student Mom yang menikah di usia 16 dan masih terus belajar menjadi Ibu, Istri, dan anak yang sholihah.

Followers