Rabu, 25 Juli 2012

Sekolah (Part 2)



Lagilagi.saya ingin menulis mengenai sekolah.

Beberapa hari yang lalu sebelum ramadhan,saya mengikuti  program ujian paket b, dan bisa di katakan,untuk pertama kalinya setelah 2 tahun saya duduk kembali di bangku sekolah.haha. aneh memang.adapun alasan saya mengikuti ujian tersebut,semata2 untuk taat pada orangtua saya,yang berpikiran bahwa ijazah itu masih dibutuhkan,walaupun saya sangat paham ‘dibutuhkan’ yang mereka maksud bukanlah untuk bangga2an,atau hanya untuk mengejar nilai2. namun karena system pendidikan di Indonesia mengharuskan hal tersebut untuk kita yang ingin melanjutkan pendidikan di bidang yang lainnya,sayapun mengikutinya dengan menjadikan UN ini hanya sebagai washilah buat saya.

Ya walaupun banyak pengalaman2  yang sebenarnya cukup menyakitkan buat saya (haha.becande)..gimana tidak? Anak2 yang mengikuti ujian paket b tersebut justru dari orang dalam sendiri sudah meremehkan mereka,bahkan saya sendiri pun merasakaannya,(mereka tidak tahu kalau saya homeschool),dibilangin macam2,Putus sekolah,tidak lulus,anak y ikut paket b itu bego2,(bahkan hanya untuk sekedar mengisi soal2 PKN dan B.Indonesia yang sederhana dibilang tidak mampu!?)dan lain sebagainya.

Haha.aneh bukan.sedangkan dari mereka sendiri sudah seakan meremehkan para siswa,untungnya saya yang mengikuti ujian ini sama sekali tidak bermaksud hanya untuk mendapatkan ijazah,lalu bagaimana dengan yang lainnya?saya jadi tidak heran lagi dengan anak2  yang bahkan sampai kerasukan hanya karena tidak lulus UN dan harus mengulang dengan ujian paket b, ternyata persepsi terhadap anak2  tersebut memang benar2 menjatuhkan mental dan membuat kita merasa terhina.dan pada akhirnya bisa melahirkan generasi2 pecundang yang taunya hanya mengejar nilai.

Ok lanjut.

selama dua tahun ini,saya memang menempuh pendidikan homeschool.mungkin kebanyakan orang di Indonesia masih awam dengan homeschool,bahkan kadang terkesan meremehkan. walaupun jelas saya tidak akan mengatakan semua orang seperti itu.terlalu banyak bahkan yang paham.karena itu saya ingin lebih banyak lagi.

Baiklah.

Ini bermula ketika saya mulai merasa aneh dan bosan dengan cara saya belajar di sekolah.ini bukan karena saya tidak mampu dengan semua pelajaran itu,tapi ketika saya merasa bahwa ada ada yang salah dengan cara saya belajar, itu saat dimana saya merasa ada suatu pelajaran yang saya pelajari tidaklah berguna,hanyalah sekedar tahu secara teori.bahkan makna yang sesungguhnya pun tidak saya mengerti.

Jujur saja.sedari SD kelas satu,saya selalu juara kelas bahkan sampai saya masuk SMP dan melanjutkannya di pesantren,saya masih selalu juara kelas.saya selalu berpikir bahwa sekolah mengharuskan saya harus mampu di semua bidang,bahkan saya selalu memaksakan diri untuk mempelajari  semua bidang secara mendalam,dan mungkin tidak ada yang tahu,tapi pada saat itu,saya mulai merasa frustasi.

Kenapa? Sebab saya tidak juga menemukan diriku sendiri.saya tidak juga menemukan apa mimpi saya sebenarnya.namun mimpi yang saya maksud tentunya urutan kedua setelah menjadi Hafidzah.Hafidzah sejati selalu menjadi nomor satu.insya Allah.

Saat itu saya mulai merasa bingung,banyak orang yang bilang,saya ini pintar(masa?),hebat di semua mata pelajaran(iya kah?),ya jelas saja!metode belajar saya hanyalah mengandalkan text book.text book.!sebab kita dituntut untuk itu, mereka mungkin tidak tahu,bahwa semua itu membuat saya benar2 terbebani!

Di sekolah,saya di haruskan perfect di segala bidang,dan perfect yang mereka maksud ialah ketika saya bisa mengerjarkan tugas,menjawab soal ,mendapt nilai bagus,dsb,yang keseluruhannya terkadang bahkan tidak bisa menunjukkan kemampuan nyata seseorang akan bidang tersebut.

Contohnya ketika seorang anak ditanya ukuran panjang dan lebar gawang,ia tidak tahu.namun ketika di suruh bermain bola,ternyata ia bisa.dari sini saya juga menyadari  semua yang saya pelajari ,sebagian besar tidak dapat menilai kemampuan saya secara riil.

Contoh selanjutnya,Soal pertama PKN yang saya dapatkan pada saat ujian paket b,(yang sebenarnya bisa buat kita cukup ngakak.). “Tindakan manakah yang merupakan tindakan criminal?” (what!?) a.blala.b.blala. dst.. lalu apakah soal itu benar2  mampu menilai seseorang,bahwa orang ini paham(untuk di aplikasikan) apa itu criminal atau tidak? Kalau tidak,lalu untuk apa dijadikan soal? sempit.dari sini pula,saya lagi2 sadar.

Dan begitu banyak contoh2 sederhana selama 7 tahun saya menempuh sekolah formal yang membuat saya semakin sesak.Saya selalu bertanya pada diri sendiri,sebenarnya ada apa? saya bisa mempelajari semua ini,saya bisa dapat nilai bagus di semua mata pelajaran,tapi ada apa? kenapa saya selalu merasa tidak menjadi diri saya sendiri?tidak nyaman?

Akhirnya.sampailah saya pada titik terang yang disana terkumpulah keberanian (ehm.) dalam diri saya untuk memutuskan.Saya tidak bisa melanjutkan sekolah formal ini.

Saat itu,saya menyadari,semua yang selama ini membuat saya terbebani,takut untuk menujukkan diri yang sebenarnya,yang membuat saya memahami bahwa belajar hanyalah sebatas mendaptkan nilai bagus di ujian akhir,yang membuat saya berpikiran begitu sempit,takut berpikiran terbuka..

saya menyadari.sekolah formal yang saya jalani adalah siksaan buat saya.!
Silahkan menyebut saya gila,aneh,ataupun berlebihan.namun lihatlah alasan saya terlebih dahulu.

SEKOLAH!

Seakan akan semua hanya dapat diukur dengan angka semata.mulai dari latihan soal sampai Ujian nasional.!ini tidak adil,Sekolah benar2 tidak mampu mengakomodasi semua kemampuan unik setiap siswa.semua disama ratakan.dengan cara penilaian yang sama.sehingga siswa yang menunjukkan perbedaan justru dikerdilkan.

Belum lagi ujian nasional yang sesungguhnya benar2 mengherankan,atau lebih kepada intinya lagi,Menyakitkan!?
Bisa2nya perjuangan siswa belajar selama 6 tahun untuk SD,3 tahun untuk SMP dan SMA,Perjuangan guru2 mengajarkan murid2nya dengan ikhlas, tiba2 saja di veto oleh pemerintah dengan Ujian nasioanal dengan penilaian system komputerisasi!!??dengan kebanyakan soal yang bisa dibilang lucu!?(apaomong ini!?)

Sungguh oh sungguh.ini tidak adil.semua itu benar2 tidak bisa disebut dengan penilaian.tidak!
Bagaiamana mungkin seluruh anak bangsa yang ada dinegeri ini,seluruhnya di sama ratakan dengan program yang pemerintah sebut ‘ujian nasional’

Lalu bagaiman dengan anak2 yang tidak memiliki kemampuan menyeluruh di seluruh bidang itu?
anak2 yang pandai di bidang olahraga misalnya,apakah mereka akan dianggap bodoh dan mustahil sukses ketika gagal di UN atau setidaknya rendah di matematika,sementara dia begitu hebat di olahraga?

Bagaimana dengan anak yang punya keterampilan2 khusus? apakah mereka semua tidak akan pernah sukses hanya karena tidak lulus UN? Ya.mungkin bisa saja,sebab mungkin telah tertanam dalam diri mereka,bahwa UN adalah penentuan akhir dari segalanya.

Saya jadi ingin bertanya,apakah semua mata pelajaran yang siswa pelajari,siswa ujiankan dalam UN,keseluruhannya akan menjadi profesi  bagi mereka untuk kehidupan selanjutnya? Tidak kan? mana mungkin siswa harus menjadi seorang dokter,mekanik,fisikawan,Sastrawan,budayawan, dsb,sekaligus untuk satu kehidupan mereka. (adanya mereka mampus duluan.)

Lalu kenapa? Oh,kenapa? siswa dituntut haru bisa semua pelajaran?? kalau tidak bisa? Bodoh! Tidak lulus!gagal!

ya.ini jadi tidak mengherankan,ketika kebanyakan anak hasil dari pendidikan yang disebut2  dapat mencerdaskan itu,justru hanya menghasilkan anak2  yang  kebanyakan hanya mengejar dan mengagung agungkan lembar ‘sakti’ yang bahkan membuat banyak siswa meratap2,ingin bunuh diri hanya karena tidak mendaptkan 1 lembar kertas tersebut.apa itu? IJAZAH! ataukah anak2 yang hanya mengejar gelar akademik semata.bagaimana tidak? Orang sedari SD itu yang tertanam. Harus lulus UN bro! kalau tidak? The End!

Berawal dari sinilah saya berpikir,sekolah itu terasa otoriter!diskriminatif!tidak kreatif,dan tidak lagi menyenangkan buat saya,menjadi beban,yang bahkan bisa membuat anak didiknya layu sebelum berkembang..

Selanjutanya.Diluar dari masalah penilaian..

Saya berpikir semua yang saya pelajari terlalu materialis,inilah akibat dari mencontoh gaya belajar barat,contohnya ketika kita mempelajari mengenai makhluk hidup,di buku pelajaran IPA, kita tidak pernah mendapati ada unsur keTuhanan yang dimasukkan.seakan2 kita ini tercipta secara sendirinya,padahal sudah jelas ada Allah subhanahu wata’ala yang telah menciptakan kita.

Saya juga begitu sulit untuk fokus,bagaimana tidak? Jam pelajaran yang sangat ketat,dan berganti dari satu pelajaran kepelajaran yang lain denagn sanagt cepat, yang pergantiannya terkadang bisa dibilang ngga nyambung.apa coba? Dari belajar b.indonesia yang misalnya kita sedang menulis puisi, tiba2 berganti dengan matematika .karena itulah mungkin saya sulit menemukan bakat saya, apa yang membuat saya tertarik.disebabkan tuntutan sekolah dan kurikulum yang mengharuskan kita mengikutinya.padahal bukankah sekolah dan kurikulum itu justru untuk anak? Bukannya kita untuk mereka?lagi2.aneh.

Saya merasa sempit dan terbatas.dalam pelajaran2 di sekolah,terkadang kita baru dikatakan mampu ketika hal itu sesuai dengan buku2 pelajaran.padahal bahkan,adak makna2 yang bisa kita perluas,dan tidak bisa hanya perpatokan pada buku pelajaran.

Belum lagi Indonesia yang memberlakukan 1400-an jam per tahun jam pelajaran disekolah,dan ini baru untuk SD.padahal,jika dilihat,UNESCO hanya menyaratkan 800-900 jam pelajaran per tahun.sungguh luar biasa.! Luar biasa membuat anak didiknya bosan abis di kelas!!

Dan yang paling membuat saya berpikir untuk meninggalkan Sekolah formal adalah,saat saya menyadari Sekolah semakin bergeser dari fungsinya,yakni salah satunya,mempersiapkan para siswa menghadapi tantangan tantangan yang pasti mereka akan hadapi di luar sekolah. Mempersiapkan siswa menghadapi dunia nyata dan memiliki kepekaan terhadap apa yang diharapkan atas mereka,bagaimana mereka akan di tantang,dan apa yang mampu mereka lakukan.Justru tidak saya dapati.yang saya dapati,hanyalah untuk mengejar nilai dan ranking.!

Dan dari semua itu,yang paling menonjol adalah,anak2 sekolah formal,sering menilai diri mereka sendiri dari NILAI yang mereka dapatkan di sekolah.Jikah NILAI bagus maka ia akan merasa pandai dan di anggap pandai.sebaliknya,jika NILAI buruk,maka ia akan merasa bodoh dan dianggap bodoh.dan terciptalah anak2 yang tidak percaya diri,hanya karena mendapati NILAInya buruk dari satu mata pelajaran.(kebanyakan orang patokannya matematika.ckck).dan hadirlah anak2 yang benar2  gagal di dunia nyata hanya karena dianggap gagal disekolah.ini terjadi kerena sekolah yang tidak menghargai kegagalan dan siswa yang mendapat NILAI buruk dianggap siswa gagal! Miris!

Dan begitu banyak alasan2 lainnya yang membuat saya enggan meneruskan Pendidikan di sekolah formal.
Lalu..

Apa yang saya dapatkan dari homeschool.? Sejujurnya saya tidak bisa sepenuhnya dikatakan homeschool.mengapa? karena nyatanya saya lebih banyak belajar secara otodididak.

Kebanyakan orang beranggapan,bahwa homeschooler ataupun orang yang belajar dengan otodidak itu dianggap tidak sekolah.ini jadi aneh.apakah belajar dan sekolah sedemikian sempit maknanya?hingga yang dimaksud belajar dan sekolah hanyalah di saaat kita berada dalam bingkai sekolah formal?

Lalu menurut saya?

Ya.Belajar,menuntut ilmu,sekolah,tidaklah sesempit itu maknananya.yang saya pahami ialah bahwa sesungguhnya seluruh proses yang kita jalani dalam hidup kita ini,adalah belajar! Itulah belajar yang sebenarnya.mulai dari saat kita dikandung hingga terlahir seperti sekarang ini.

itu berarti,bahwa belajar,tidak pernah ada batasnya!! Guru kita adalah kehidupan itu sendiri..bersama orangtua,saudara dan keluarga,teman,buku,berbagai macam orang dengan berbagai macam keahliannya  dibidang masing2,..mereka semua itu..adalah guru!

Seperti itulah saya memhami belajar saat ini.

Ketika saya belajar bahwa dalam hidup ini,kita harus mempunyai visi dan tujuan,dari kedua orangtua saya..
Ketika saya belajar kedisiplinan ,konsisten,dan komitmen dari seluruh yang kujalani di setiap hari2ku..dan ini

berarti,hari2 dalam hidupku,sudah pasti juga merupakan guruku.

Ketika saya belajar bersosialisaisi dari teman2ku..

Ketika saya bahkan belajar berkompetisi dari diri saya sendiri,yang mungkin kebanyakan orang beranggapan homeschooler tidaklah mampu bekompetisi,namun haruslah mereka tahu,bahwa sesungguhnya,kompetisi terberat adalah dengan diri kita sendiri dan selanjutanya dengan kehidupan yang kita jalani..sebab kompetisi tidak harus selalu berarti berlomba mengejar rangking,berlomba mendapat nilai terbaik dan sebagainya..

Dan ketika saya belajar..bahwa hidup ini,sesungguhnya adalah belajar itu sendiri!

Lalu bagaimana dengan pelajaran2 umum yang lainnya.?

yap.aku lebih senang mempelajarinya dengan rasa ingin tahu yang besar,tidak hanya menunggui guru memberikan seluruh penjelasannya di depan kelas.aku mencoba membuat diriku tertantang dan segera mencari tahu dari orang2 yang kuanggap mampu,membaca,searching di internet,menuliskannya,dan bertualang dengan hal yang sedang kupelajari..!

Belajar seperti ini membuat saya merasa tidak lagi tertekan.justru saya semakin memiliki rasa ingin tahu besar! Lebih termotivasi.saya bisa dengan bebas menjadi diri sendiri,berimajinasi, tanpa ada rasa takut dan sebagainya.saya selalu ingin belajar tanpa batas.namun disini saya tidak hanya belajar hal2 yang membuatku tertarik saja,namun juga yang lain sesuai dengan porsinya .tidak berlebihan.sebatas saya paham.dan saya pun punya waktu lebih banyak untuk hal2 yang kusenangi.saya tidak hanya menerima pelajaran saja dari guru,namun dituntut untuk lebih mencari tahu.saya lebih percaya diri.dan dari semua itu,yang paling berarti ialah,apa yang saya pelajari bisa membuat saya langsung mencoba untuk mengaplikasikannya.Alhamdulillah.

Mungkin orang di sekitar saya beranggapan,bahwa saya tidak lagi seperti dulu,yang bahkan bisa mendapat nilai bagus di semua bidang.

Namun tahukah kawan..

Selama dua tahun perjalananku mencoba gaya belajar tersebut..untuk pertama kalinya dalam hidupku.aku menjadi tertarik terhadap sesuatu bukan karena nilai2ku dan pendapat orang2,namun dari diriku sendiri..

Saya bahagia.ketika mencoba banyak tahu dan belajar tentang astronomi.bintang.bulan. berbagai macam benda2 langit.membuat kita selalu bersyukur akan alam semesta yang begitu luar biasa yang telah diciptakan Allah subhanahu  wata’ala. Membuat kita menyadari,bahwa kita ini terlampau kecil untuk sombong.Membuatku bebas berimajinasi tanpa ada batas,sebab semua bisa saja mungkin terjadi di alam semesta yang bahkan tak dapat kita ketahui luasnya ini. Berimajinasi dengan otak kanan dan berpikir sistematis dan logika dengan otak kiri, keduanya diasah ketika berbicara tentang astronomi. semua itu menyenangkan.

Aku merasa sama sekali tidak terbebani ketika mencoba mencurahkan seluruh pikiranku lewat gambaran2 absurd..dan disini saya merasakan betul perbedaanya,ketika dulu saya sama sekali tidak bisa menggambar dari hati disebabkan rasa tertekan karena harus dinilai lagi.sedangkan saat ini saya bisa dengan bebas menggoreskan apapun yang ingin saya gambar,tanpa takut itu akan jadi jelek,dapat nilai rendah,norak dan sebagainya..

Disaat saat sederhana  itulah.saya meyakini jalan yang kuambil,bahwa dengan cara seperti inilah saya belajar..

Intinya semua itu tergantung dari diri kita sendiri..

Kitalah yang berhak memutuskan,..

Adapun semua yang saya katakan mengenai sekolah,itu semua adalah pendapat saya.dan orang bisa berbeda pendapat.

Diluar dari semua pendapat saya mengenai sekolah formal,saya yang pernah menjalani nya 7 tahun,walupun pada saat itu saya sering merasa tertekan,namun saya tetap bersyukur,pernah memiliki teman dan guru2 yang baik.

Dan untuk kita semua,baik itu di dalam ataupun diluar sekolah formal kita semua sedang menjalani proses.dan itu adalah belajar.

dan bagi saya..
“proses yang baik dengan do’a dan perjuangan besar,sesungguhnya adalah kesuksesan yang sejati..!” bukankah Allah tidak hanya akan melihat dari hasil akhir..?

belajarlah kita..

dan teruslah belajar..

Seperti halnya..

Penulis yang harus menciptakan tulisannya..

Penyair yang harus menuliskan sajaknya..

Pelukis yang harus menggoreskan lukisannya..

Kita pun harus bisa menjadi  apa yang  kita ingin,mampu,dan tentunya Allah izinkan,untuk kita jadi..

Dan sampai akhir hayat.kita akan selamanya menjadi pembelajar.

Selamat untuk terus Belajar wahai para pembelajar!

Makassar,22 Juli 2012.
Jam 2.30.Menjelang sahur..

Aisyah Ikhwan,
R2’s Think.

  
                                                                                




0 komentar:

Posting Komentar

Who am i?

Foto saya
Khartoum, Al Khartoum, Sudan
Ikhwan's No.3 | Fakhrurrazi's šŸ’| Cintanya Al amin Muhammad| Student Mom yang menikah di usia 16 dan masih terus belajar menjadi Ibu, Istri, dan anak yang sholihah.

Followers