Kamis, 17 Juli 2014

Because Allah Knows...:)



Hari-hari telah banyak berlalu..
menyisakan begitu banyak hal yang mesti kita pilah, antara membuangnya jauh-jauh, atau membiarkannya sebagai kenangan. Kenangan yang bisa membuat kita tersenyum, atau bahkan menangis terisak.

Setiap kita pernah mengalami masa2 krisis dalam kehidupan..
Mungkin saja masa paling krisis seumur hidup kita, hanya Allah yang tahu.
Ingin ku berbicara padamu,

Tidakkah kau menyadari, bahwa setiap keadaan ini justru  membuatmu banyak belajar dan memaknai setiap hal-hal sederhana, membuatmu menyadari siapa kau ini? Hanya seonggok manusia penuh dosa yang hanya suka mengeluh pada keadaan! Menangis dan menangis. Terjatuh dan terjatuh.

Sesak memang, tapi bisakah kau membuka matamu? Pandangilah orang-orang itu, pejuang dan bocah2 di palestina, suriah, dan di berbagai belahan dunia ini, tak bisa kah kau berhenti menutup mata? Sungguh, betapa masa ini telah memuatmu sadar, ada begitu banyak jiwa-jiwa tangguh di sekitarmu yang seharusnya kau dapat mengambil pelajaran dari mereka.

Setiap orang memiliki ujiannya tersendiri. Ia diuji dari sisi yang mungkin tak terlihat oleh orang lain namun begitu ia rasakan. Maka cobalah untuk senantiasa bersyukur atas apa yang Allah telah berikan padamu. Meski terasa pahit diawal, belum tentu ia akan pahit selamanaya. Allah Knows!

Meski tak bisa di pungkiri, momen-momen silih berganti layaknya siang dan malam. Ada saat dimana kau mampu tersenyum, saat kau lagi-lagi harus menangis, dipaksa untuk merasakan sakit di dalam hatimu. Setiap detik yang kau alami terasa begitu nyata. Kadang ingin kau coba untuk menampar dirimu sendiri, memastikan kebenaran semuanya. Saat kau lihat senyuman merekah teman-temanmu,  kau justru meneteskan air mata. Ingin rasanya kau bergabung bersama mereka, namun sekali lagi, Allah knows. Siapa yang tahu dengan senyuman itu mereka tak memiliki beban?  Hanya Allah.

Terkadang rasanya terlihat sangat berat dan melelahkan, namun semuanya kembali membuatmu tersadar, bahwa kekuatan itu datangnya dari Allah. kau bukan siapa2! Mengapa kau selalu mengandalkan dirimu yang lemah? Saat itu kau kembali. Meminta padaNya. Dan disaat itu pula kau menyadari, bahwa dengan ujian manusia akan lebih dekat kepada Allah.

Seseorang pernah berkata, “Jika kita ingin menjadi orang yang luar biasa, maka kita pun harus rela berjuang untuk menjalani kehidupan yang juga tidak biasa”

Bukankah kau memiliki begitu banyak cita dan mimpi yang mengawan tinggi? Terlihat sulit untuk digapai, namun siapa yang tahu bahwa dengan semua ini kau justru semakin mendekat? Hanya Allah yang tahu. Tugasmu adalah memastikan, bahwa kau berada di jalur yang diridhoi Allah.

Ya, mungkin memang benar, kau harus melewati hari sulit ini, agar mampu melangkah ke hari-hari esok yang penuh harapan insyaAllah. Kau tak perlu berjanji untuk tak menangis! Karena semua orang juga tahu, you cry like a pro! Yang harus kau tekadkan adalah, untuk tetap berpegang teguh diatas jalan yang diridhoi Allah, sekencang apapun angin bertiup, sebesar apapun ombak menerjang, cobalah untuk selalu tegar menghadapi semuanya. Karena kau tahu dan yakin, apa yang kau hadapi tak pernah bisa dibandingkan dengan apa yang pejuang-pejuang di muka bumi ini hadapi.

Adapun ocehan-ocehan tak berguna disamping kiri kananmu, bisaka kau kau cukup menutup telinga? Biarlah mereka mengatakan apa yang ingin mereka katakan seakan itu penting dan berpengaruh, namun sejatinya tidak sama sekali.

Cobalah untuk menjadi berani, berdoa meminta petunjuk demi keputusan yang benar untuk mengambil langkah. Dan setelahnya tak ada ruang untuk penyesalan, just keep moving forward.

Cobalah untuk menjadi orang yang dipenuhi rasa syukur. Penuh semangat dan optimisme. Cobalah kembalikan kepercayaan dirimu. Kembalilah menjadi sosok yang kukenal. Jadilah penyabar yang berhati lembut. Dan yang terpenting, cobalah untuk selalu tersenyum, meghadapi segalanya tanpa rasa takut.

Karena Allah bersama orang2 yang bersabar,
Karena Allah Tahu..
karena Allah Maha Mengetahui.
J

Setelah semua ini berakhir, bahkan jika semua ini tidak juga berakhir. Tetaplah berharap, akan setitik cahaya terang di ujung jalanmu.
Allah Knows, syah. :D

Unknown.
Minggu, 04 Mei 2014

Dengan apa saya berbakti?



Setiap kali berbicara mengenai kedua orang tua, tak ada hal lain selain haru mengingat segala perjuangan, pengorbanan dan jerih payah mereka dalam mengarungi kehidupan, membesarkan dan mendidik putra-putrinya dengan penuh cinta dan kasih sayang.

Hingga hari ini saya masih terus menangis dengan “jabe”nya ketika mengingat mereka. Baik ketika saya berada dekat dengan mereka, terlebih lagi ketika saya berada jauh, terpisah oleh jarak dari ummi dan aba.

Hari ini seperti biasanya, menjalani rutinitas sehari-hari, berangkat kuliah, naik reksya bersama suami, tak lupa membayar sejumlah pound sebelum turun dari reksya. Selanjutnya menyeberangi jalan raya 2 arah untuk kemudian sampai ke jami’ah ifriqiyah banat. Atau yang lebih kerennya, International University Of Africa. Hehe.

Tiba sejam sebelum masuk kelas nyatanya menjadi sangat bermanfaat. Langsung saja saya masuk ke dalam perpustakaan, bertemu teman yang sejak kemarin telah janjian, kemudian dengan segera mengeluarkan buku2 dan alat tulis untuk menyalin beberapa materi yang belum saya dapatkan.

Sejuknya ruang perpustakaan membuat saya tak menyadari waktu yang terus berlalu, hingga pukul 13.24  barulah saya menyadari, bahwa 6 menit lagi pelajaran akan segera dimulai. Saya dan temanpun bergegas keluar dari perpustakaan dan langsung berjalan menuju kelas. sungguh perbedaan udara yang sangat siginifikan. Di kelas panas terasa sangat menyengat sedang di perpustakaan tentu saja sejuk dan adem, bagaiamana tidak, Ac dengan indahnya nangkring di sudut-sudut ruangan. Namun inilah ujian dalam menuntut ilmu. Ujian yang tentu (catat: Sangat-sangat!) tak seberapa dengan ujian yang dihadapi para penuntut ilmu di zaman2 terdahulu

Pelajaran pertama dimulai, Al Qur’an. Seperti biasa ustadzah akan menyuruh salah satu dari kami untuk membacakan surah yang akan dihafalkan, baru kemudian tholibaat lain nya akan membaca setelahnya. Di indonesia kita tentu sudah tak asing dengan tahsinul qira’ah.

Pelajaran Al Qur’an hari ini berjalan dengan lancar. Kebetulan saat itu giliran saya yang mentahsin teman2 sekelas. Saya dan salah seorang teman memang diamanahkan untuk bergiliran mentahsin teman sekelas. Terkadang jika ustadzah tak masuk kami akan bergiliran menggantikan ustadzah mengajarkan Al Qur’an.

Hingga pelajaran pun berganti. Pelajaran kedua adalah ta’bir. Ustadzah kemudian masuk ke kelas setelah beberapa menit waktu istirahat. Tak seperti biasanya tholibat dari kelas lain ikut bergabung di kelas kami. Ternyata hari ini kami memiliki materi pelajaran yang sama “BIRRUL WALIDAIN”

Ustadzah yang satu ini memang terkenal kreatif. Ia lebih suka mengajar dengan cara yang variatif. Seperti hari ini ia membuat semacam perlombaan, dan membagi kami dalam 2 kelompok. Setiap kelompok akan naik satu orang perwakilan untuk berbicara mengenai birrul walidain. Begitu seterusnya bergantian kelompok 1 dan 2. Selanjutnya ustadzah akan memberikan nilai pada masing-masing pembicara yang kemudian akan menjadi nilai untuk kelompok mereka.

Pembicara pertama, ia menceritakan kesehariannya saat ia berada di negaranya. Bagaimana ia membantu umminya di rumah. Bagaimana ia mengkhidmat kedua orangtuanya saat sehat maupun sakit. Saya yang mendengar entah kenapa ikut membayangkan hari-hari ketika di indonesia. Pekerjaan sehari-hari yang terlihat sepele namun nyatanya dapat menjadi bagian dari bakti kita kepada kedua orangtua. Pembicara selanjutnya juga sama. Ia banyak menceritakan kesahariannya ketika bersama kedua orangtua.

Hingga sampai kepada salah seorang pembicara dari kelompok kami, ia berbicara dengan lancar masyaAllah. Ia cukup berbeda, ia menyampaikan bagian dari baktinya kepada kedua orangtua adalah ketika ia membangunkan kedua orangtuanya untuk sholat subuh berjamaah. Ketika ia berusaha untuk mengajarkan islam kepada ayahnya yang ternyata masih non muslim. Namun ia bersyukur sebab ibunya adalah muslimah. Ia bersedih ketika melihat ayanya yang membaca injil sementara ibunya membaca Al Qur’an. Ia menangis saat menceritakan bahwa ayahanya menganggap tuhan adalah yesus. Sambil tersedu2 ia menyampaikan, bahwa bagian dari birrul walidainnya adalah ia berangkat ke sudan atas restu ibunya, untuk mempelajari islam, kemudian pulang ke negaranya untuk mendakwahkan islam pada ayah dan keluarganya, Insya Allah.

Subhanallah... betapa banyak yang harus kita sadari! Terutama dan paling utama adalah saya sadari! Kesyukuran yang teramat sangat adalah bahwa kita mendapati diri kita terlahir sebagai muslim/muslimah, kedua orangtua, sanak keluarga adalah muslim/muslimah. Subhanallah. Pelajaran yang sangat berharga. Sedangakan muslimah yang ayahnya kafir saja, rela berjuang untuk mendakwahkan islam kepada ayahnya, dan dengan itulah ia berbakti. Lalu bagaiamana kita dengan kita yang memiliki orangtua yang jelas muslim/muslimah, dengan apa kita berbakti!? Dengan apa saya berbakti!?

Pertanyaan pertanyaan itu menohok tak henti dalam lamunan ku, hingga bisikan-bisikan dari teman-teman sekelompok akhirnya menyadarkan saya. Ternyata giliran sudah kembali sampai pada kelompok kami, dan teman-teman tak hentinya mendorong saya untuk maju kedepan. Mau tak mau saya kemudian bangkit dari duduk dan berjalan ke depan. Yah, dengan bahasa arab pas-pasan apa yang akan saya sampaikan?

Ustadzah terlebih dahulu mennyampaikan bahwa saya adalah pembicara yang terakhir. Saya kemudian mulai berbicara sambil membayang kan wajah ummi dan aba. Salam lalu menjadi pembuka dan awal dari kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut saya. Sekali lagi membayang kan perjuangan mereka, peluh dan kerja keras mereka! Dengan apa saya berbakti?? Tak terasa air mata  menetes tanpa diperintah, bahkan saat saya paksa ia untuk berhenti, ia tak juga berhenti. 

Sambil berusaha menahan tangsi, saya mencoba untuk berbicara di depan ustadzah dan tholibat...

Saat di indonesia, mungkin ada banyak hal yang bisa saya lakukan untuk mereka. Seperti membantu mereka dalam pekerjaan harian. Mengkhidmat mereka saat mereka butuh. Menemani mereka dalam bekerja dan berdakwah di jalan Allah. Membersamai mereka dalam perjuangan membumikan Al Qur’an. Saya dan saudara2 saya menjadi saksi betapa mereka jatuh bangun dalam perjuangan  di jalan dakwah, juga saat mereka baru mulai merintis  Daurah 40 hari menghafal Al Qur’an, hingga hari ini ketika telah banyak orang di negeri indonesia yang telah mengenal Daurah dan tersinari akan indahnya cahaya Al Qur’an dengan Izin Allah.

Namun ketika saya jauh, saat saya kembali ke negeri ini, Sudan. Dengan apa saya berbakti? Bagaimana saya membantu mereka?

DOA! Doa adalah kunci utama. Doakan mereka disetiap sholat dan waktu2 mustajab. Doakan mereka dengan doa2 terbaik dan terkhusyuk yang kita bisa. Doakan mereka untuk diberikan kesehatan dan penjagaan terbaik dari Allah subhanhu wata’ala. Agar kita dikumpulkan di jannahNya kelak insyaAllah

Kemudian setelah itu, hafalkanlah Al Qur’an. Saya tahu dan saya sadar, saya masih terus dalam tahap murojaah. Hafalan saya masih amat sangat dhoif. Namun saya ingin terus berjuang untuk mengitqankan hafalan ini, agara dapat menjadi syafaat di akhirat kelak. Menyaksikan mereka dipakaikan mahkota dan jubah kemuliaan, adalah cita-cita mulia yang saya tambatkan di sini, di dalam hatiku.

Kemudian setelah itu, belajar dengan sungguh-sungguh! Menuntut ilmu tanpa kenal lelah. Di perantauan ini, adakalanya saya merasa down, adakalanya saya merasa tak mampu. Seperti saat saya harus ketinggalan pelajaran selama 2 bulan lebih, dikarenakan kepulangan saya untuk berobat dan mengurusi berbagai kepentingan lainnya, dengan imtihan yang tinggal 2 pekan lagi. Namun kembali ummi dan aba meyemangati! “Ijtahidy yaa Aisyah!” kalimat itu bagaikan kalimat mutira yang terus saya bawa kemanapun saya melangkah. Mereka adalah motivator luar biasa. Hingga sekali lagi saya menyadari, betapa perjalanaan saya dalam menuntut ilmu ini adalah bagian dari birrul walidain. Mungkin saya jauh dari mereka. Namun dengan inilah saya berbakti Insya Allah. Maka dengan itu niat untuk belajar dengan sungguh-sungguh semakin tertancap di dalam hati.

Saya kemudian mengakhiri pembicaraan saya, sembari mengusap bekas air mata yang dengan “lebay” menetes tanpa diminta. Saya melihat teman-teman yang lain ikut menangis, mata mereka memerah, mungkin membayang orangtua mereka masing-masing. ustadzah kemudian berterima kasih kepada saya sambil tersenyum, beliau lalu membacakan doa kepada kedua orangtua dengan khidmat, diakhiri dengan ucapan “aamiin” dari seluruh tholibat yang ada di kelas.

Subhanallah, betapa indahnya Birrul Walidain. Ia menjadi kewajiban bagi setiap diri kita tanpa terkecuali. Baik saat kita berada dekat dengan mereka, atau saat kita masuk dalam barisan para perantau. Untuk teman2 yang sedang menunutut ilmu, jauh dari orang tua, percayalah, selalu ada jalan untuk kita berbakti pada orangtua. Seperti mendoakan mereka, belajar bersungguh2, atau bahkan menyisihkan uang saku demi membeli pulsa untuk menelepon mereka ditanah air. Mungkin saja mereka sedang sedih. Mungkin saja mereka sedang rindu dengan anak-anaknya yang kini jauh dari mereka.

Indah bukan, ketika kita bisa mendengar suara mereka? Itulah yang saya rasakan. Mendengar mereka melantunkan kalimat-kalimat nasehat membuat saya selalu tersenyum, bahkan terkadang menangis tertahan, lalu kemudian menyadari, lagi..lagi, dan lagi! Betapa berartinya orangtua dalam kehidupan ini. Hingga ikut tersadar, lagi..lagi, dan lagi! Betapa banyak DOSA yang telah saya perbuat kepada mereka. Astaghfiruka ya Allah...:’(

Hari ini, di negeri rantau ini, dengan panas yang kian menghempas, sungguh! Pun dengan ghubar yang merengsek masuk hingga ke paru-paru, saya hanya ingin menyampaikan kepada diri saya sendiri, bahwa MENYERAH BUKANLAH PILIHAN!

Ummi aba..Terima kasih untuk semuanya, segalanya, seluruhnya! Maafkan anakmu ini yang telah begitu banyak melakukan DOSA  kepada kalian. semoga dengan langkah demi langkah yang anakmu ini tapaki di negeri sudan, dapat menjadi bagian dari baktinya kepada kalian, Ummi aba. Anakmu ini, sungguh sangat mencintai kalian karena Allah. J


Rabu, 03 Juli 2013

Kammanne...


Saya lagi sementara mengukir kisah.. perjalanan 40 hari.. dan kali ini, saya tidak mau piti kana-kanai lagi! :P
Selasa, 02 Juli 2013

Daurah 40 Hari Menghafal Qur'an (Karantina) Inilah kami.. apa adanya 40 hari kami..:D


@ Daurah 40 Hari Menghafal Qur'an. Hari ke- 40. (Jam penyetoran terkahir).

Kepingan-kepingan masa berupa detik, menit, jam, hari yang terus berlari! mencoba melampaui langkah "para pelaku kisah"..

Sementara itu.. di tengah hebatnya hempasan ombak, riuh desiran angin, deras guyuran hujan, langkah-langkah itu masih terus mencoba untuk menatap!

Bagaimana tidak mereka kini sedang berlomba! berkejaran dengan "sang masa" mencoba menjadi yang terdepan.

Demi apa?
Demi mengejar agungnya Ridha Ilahi..
Demi mengejar "hebat" menjadi nyata!
Demi melewati titian 40!

Melangkahi hari demi hari..
Bersama detak dan nafas yang selalu setia..!

Ingin mereka mengukir kisah..
Ingin mereka menyemai asa..
Ingin mereka memupuk semangat penuh harap!
Hingga mereka saksikan!
Senyuman sang gemilang berpendar indah disana.. di lubuk hati mereka orang-orang tercinta..

Kini dengarkanlah..
Kini rasakanlah..
Kini saksikalah!

Betapa detak-mu! nafas-mu! langkah-mu! bersama "sang masa"
Telah berkorban JAUH! demi menjadi saksi..
saksi yang tak akan pernah bisu!

‎#Note terakhir daurah. Status pertama. Syukran sesyukran-syukrannya!
kepada "Para pelaku Kisah" yakni seluruh pembina, muhaffidzah, staff, dan tentunya para peserta. Kita telah bersama di awal hingga akhir perjalanan.. mengukir kisah indah dalam langkah, detak, dan nafas. Dalam tangis dan tawa. dalam sedih, haru, dan sukacita. Dalam bangkit, jatuh, dan kembali bangkit!

40 Hari.. sungguh! telah kau lahirkan sebuah rasa bernama "Nano-nano layaknya gado-gado!"

"Maka kenanglah ia wahai para pelaku kisah..dan biarkan hatimu tersenyum!" :D:D

‎#Road to Haflah Ikhtitam.
Kamis, 31 Januari 2013

Hamas : Pelajari Bahasa Ibrani untuk Ketahui Musuhmu!



Hamas di Jalur Gaza berencana memperluas pengajaran bahasa Ibrani di sekolah-sekolah yang ada di jalur Gaza untuk membantu rakyat Palestina mengetahui musuh pada saat konflik dengan Israel.

Hal ini tidak berarti Hamas mencapai kemajuan pendidikan bahasa Ibrani di Gaza   melainkan bertujuan untuk menjadikan keterampilan berbahasa sebagai salah satu perlawanan melawan Israel.
Hamas mengatakan rakyat Gaza akan mendapatkan keuntungan dari kemampuan untuk memahami apa yang Israel katakan dalam bahasa mereka.
Hamas telah mengirim pesan acaman terhadap Israel melalui video dan Radio selama bentrokan yang berlangsung delapan hari di bulan November dimana berakhir dengan gencatan senjata yang dimediasi oleh Mesir.
Media menyoroti keinginan Hamas dalam penggunaan bahasa Ibrani sebagai alat propaganda dalam konflik, dan bahkan Izzudin al-Qassam, sayap militer Hamas, mulai menggunakan bahasa Ibrani dalam keterangan di akun Twitter nya.
Samiyah Nakhola, Kepala Kurikulum Departemen Pendidikan di jalur Gazza mengatakan kepada Reuters “Tujuan pengajaran bahasa Ibrani agar Siswa dan siswi kami mampu mengerti bahasa musuh mereka.”
Ia menambahkan bahwa perluasan pengajaran bahasa ini adalah rencana kementerian dan memenuhi meningkatnya permintaan untuk belajar bahasa Ibrani kepada siswa di Palestina yang ingin belajar bahasa musuh mereka untuk menghindari kejahatan dan penipuan yang dilakukan oleh musuh.
Dan bisa di gunakan untuk mengetahui apa yang sedang terjadi pada kehidupan politik Israel dan kebijakan Israel terutama strategi mengenai Palestina melalui surat kabar dan media elektornik milik Israel. (hr/Islam today)
Sumber: www4.eramuslim.com
Minggu, 27 Januari 2013

Sebuah Tentakel Ekonomi Bernama,, RIBA!!


Ia lebih sadis dari terorisme!
Ia lebih kejam bahkan lebih menyeramkan dari tindakan kriminal apapun!
Sebutkan apa saja..! dan kau tidak akan menemukan sistem yang memperbudak ummat manusia di seluruh dunia sedemikian dahsyat dibandingkan sistem keuangan "dzalim" yang di praktikkan oleh lebih dari tujuh miliar jiwa populasi dunia..!  (The Book Of Codes)

Sistem keuangan ciptaan para knight templar..
yang menyengsarakan, mendzalimi, hingga membunuh sekian banyak manusia dalam negeri "lucu" -yang katanya "Merdeka"- bernama INDONESIA. Sistem keuangan terkutuk bin haram itu disebut dengan nama,, RIBA..!!

Wahai sebuah tentakel ekonomi yang kini masih betah dalam penyamaran keji sebagai "BUNGA"...  akankah kau lenyap, hilang, hingga MATI!? 

Sungguh.yang tersisa hampir habis. Tinggallah tetes terakhir..
tahukah, sisa perjuangan bersama harapan itu, 
masih ada ada keyakinanan untuk kita percaya..!
"Innal baathila kaana zahuuqaa'...! Sesungguhnya kebathilan pasti akan lenyap..!

Fight Riba! Find The Freedom!
Aisyah Muhammad Ikhwan.
Sabtu, 12 Januari 2013

Bukan Israel, Tapi Zionis Yahudi!


Nama Israel sudah populer di semua kalangan. Hampir seluruh media massa di dunia menyebut sebuah negara penjajah yang menguasai Palestina saat ini sebagai “negara Israel”. Padahal jika dijelusuri secara historis, istilah Israel dalam hal ini tidak tepat. Ini adalah bagian dari “perang terminologi”. Tanpa sadar, hampir keseluruhan umat Islam dengan mudah mengucapkan kata “Israel” bahkan diikuti dengan kata atau doa yang buruk serta laknat terhadap mereka. Padahal, nama Israel adalah nama Nabi Ya’qub alaihisalam.   

Yahudi memanfaatkan nama “Israel” saat mereka membangun kekuatannya di era modern ini. Dengan nama itu, mereka mengklaim terikat dengan dengan Nabi Allah Israil alaihissalam, mengikuti agamanya, pewarisnya, keturunannya. Dan seakan Allah meridlai mereka.


Tatkala Yahudi menduduki Palestina dan mendirikan negara mereka di sana, mereka menamakannya dengan “negara Israel”. Lembaga dan instansi yang ada juga atas nama Israel; Bank Israel, bendera Israel, tanah Israel, suara Israel, tentara pertahanan Israel, kementerian luar negeri Israel dan seterusnya.

Agar diterima oleh masyarakat dunia, Yahudi memberikan imbuhan dan kesan dimensi agama dalam entitas dan eksistensi mereka di tanah Palestina. Ini mereka lakukan agar masyarakat internasional simpati agamis dan kalangan yahudi dunia sudi eksodus ke negara Yahudi, mengerahkan seluruh energi dan potensi yang mereka milik untuk negara penjajah ini.

Selain itu, dengan menamakan diri sebagai “negara Israel” cara seperti ini, Yahudi ingin mempengaruhi kalangan Kristen dunia dan mendapatkan dukungan. Sebab kalangan ini juga mengklaim beriman kepada Injil (Bibel) dan Taurat juga. Taurat adalah Perjanjian Lama dan Bibel adalah Perjanjian Baru. Keduanya diyakini kalangan Kristen sebagai kitab suci.

Yahudi ingin memberikan entitas mereka di Palestina untuk kalangan Kristen sebagai wujud nubuwat dalam perjanjian lama di dalam kita suci. Mereka ingin menunjukkan seakan ini sebagai perwujudan janji Allah kepada Ibrahim dan Israil (Yakqub). Mereka ingin memberikan pemahaman kepada Kristen bahwa dukungan kepada ensitas Yahudi di Palestina adalah konsekwensi keimanan Kristen kepada Injil (Bibel). Karenanya, sebagian negara Kristen di barat terpengaruh kepada klaim Yahudi ini.

Israil adalah Nama Nabi

Israil adalah Nabi Allah yang mulia dan dicintai-Nya. Ia adalah Yakqub bin Ishak bin Ibrahim alaihimussalam. Allah berfirman,

“Mereka itu adalah orang-orang yang Telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang Telah kami beri petunjuk dan Telah kami pilih. apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, Maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (Maryam: 58)

Sementara Bani Israil adalah anak dan keturunan Nabi Yakqub 12 orang, Yusuf dan saudara-saudaranya. Dari 12 orang inilah berkembang biak dan menjadi Bani Israil saat mereka tinggal di Mesir bersama Yusuf. Ketika datang Musa, mereka keluar bersamanya ke Gurun Sinai. Saat mereka kehausan Musa memukulkan tongkatnya ke batu dan mengeluarkan mata air sebagi mukjizat.

Nama Bani Israil digunakan sampai diutusnya Nabi Muhammad. Ayat Al-Quran jelas menginformasikan tentang mereka, sejarah, perbuatan, taklif Allah kepada mereka, kesalahan dan penyimpangan mereka.

Yahudi atau Israel?

 Al-Quran menyebut Yahudi kepada Bani Israil setelah diutusnya Nabi Muhammad dan setelah mereka kufur dan mengingkari kenabian beliau. Nama Yahudi adalah bukan bahasa Arab namun digunakan untuk mengistilahkan bangsa kafir yang dimurkai Allah. Nama Yahudi hanya disebutkan dalam ayat-ayat madani (yang turun setelah hijrah ke Madinah) di delapan kali di surat; Al-Baqarah, Al-Maidah, dan di At-Taubah semuanya dengan konteks celaan atas mereka dan bukan pujian.

 Beralihnya peristilahan Al-Quran dari Bani Israil kepada Yahudi ini memberikan kesimpulan bahwa umat Islam wajib mengikuti methode Al-Quran dalam membedakan antara Yahudi dan Bani Israel.

Ketika Al-Quran mengganti istilah Bani Israel menjadi Yahudi ini ingin menghilangkan mereka dari warisan hakiki Ibrahim dan Israil. Meski mereka mungkin masih ada keturunan Nabi Israil, namun mereka bukan pewarisnya karena mereka tidak mengikuti agama beliau.

Karena itu untuk menunjuk kepada negara penjajah di Palestina saat ini yang benar adalah menyebutkan “negara penjajah zionis yahudi” dan bukan Israel. Zionis menunjuk kepada organisasi internasional jahat yang merancang berdirinya negara penjajah tersebut di Palestina. Sebab jika menggunakan Israel dikhawatirkan akan memberikan imbuhan laknat, celaan, cercaan kepada seorang Nabi Allah yakni Yakqub. Jika pun terpaksa menggunakannya karena tuntutan konteks jurnalistik maka menyebut itu dengan tanda petik ‘Israel’.(infopalestina)

Who am i?

Foto saya
Khartoum, Al Khartoum, Sudan
Ikhwan's No.3 | Fakhrurrazi's 💍| Cintanya Al amin Muhammad| Student Mom yang menikah di usia 16 dan masih terus belajar menjadi Ibu, Istri, dan anak yang sholihah.

Followers