Rabu, 28 Juni 2017

Tidak Harus Jago yang Penting Bisa.


Dulu waktu saya kecil Ummi pernah bilang, "jadi perempuan itu memang tidak harus jago masak layaknya chef, tapi paling tidak harus bisa masak."

Dulu, sewaktu hari pernikahan saya, saya sempat curhat ke Ummi sebelum akad, "Ummi, gimana nanti yaa, saya kan nda tau masak." Lalu Ummi jawab kurang lebih seperti ini, "Aisyah, santai saja. Masak itu kebutuhan. Nanti juga bisa kalau belajar."

Dulu, (oke ini paragraf terakhir dengan awalan kata dulu. Kesannya gue manusia dulu banget. 😑) saya itu orangnya tidak terlalu hobby masak. Tentu kecuali kalau saya lagi kepepet, Ummi tidak di rumah, dan lagi lapar. Paling bikin nasi goreng, mie instan, makaroni, telur, dan semacamnya. Tapiii, saya itu suka sekali mengamati Ummi masak. Karena Ummi bilang, kalau belum mau coba masak, lihat-lihat saja dulu. Kupas bawang saja dulu, belajar potong-potong, itu juga bagian dari masak. Semacam itu.

Nah, ternyata yang Ummi bilang itu memang benar saya rasakan sekarang. Masak itu kebutuhan. Mau makan, ya masak. Apalagi di rantau begini. Lalu saya juga jadi mengerti bahwa masak itu pasti bisa kalau mau belajar. Memang benar. Saya ingat sekali awal saya dan suami tinggal di Sudan 2013 lalu. Waktu itu kami belum membeli kompor, syukurnya ada rice cooker yang bisa digunakan multifungsi. Nah, saya pun dapat ide masak pake rice cooker ini hasil lihat dari Ummi sewaktu umrah dulu. Menu pertama di luar menu-menu biasa semacam nasgor, dll yang saya buat waktu itu adalah kentang goreng balado. Sesederhana namanya, hanya digoreng dan ditumis dengan bumbu yang dihaluskan. Saya juga ingat waktu itu menggoreng kentangnya di rice cooker. 😂 Lalu beberapa tahun berlalu, dan menu yang rasanya biasa sekali itu selalu saja direquest suami. Kok bisa? Mungkin nihh yaa ... mungkiiin, karena dibuatnya pake hati. Haha.

Jujur saja, saya bahkan belajar teknik memotong ayam dan membersihkan ikan dari youtube. 😑 Ya, sampai segitunya. Tapi saya suka. Saya menikmati. Meski sekarang ini tetap saja skill memasak masih biasa saja bahkan kurang mungkin. Tapi paling tidak apa yang saya masak bisa dimakan. Dan kebiasan saya mengamati Ummi masak sewaktu kecil itu, ternyata sangat berguna sedari awal saya punya niatan rajin masak. Haha. Jadi bagi yang cuek dengan dapur seperti saya dulu, tetap rajin-rajinlah mengamati orang memasak. Suatu hari nanti berguna juga.

Yang paling kerasa itu kalau lagi momen lebaran di rantau seperti ini. Alhamdulillah 'alaa kulli haal. Yang biasanya makan masakan Ummi, sekarang makan masakan sendiri. Dulu opornya Ummi, sekarang opor sendiri. Dulu galorica Ummi sekarang rendang sendiri. Di indo buras ketupat, di sini lontong rice cooker. 😂

Lalu saya mengingat-ingat, kenapa saya dan kakak-adik saya begitu jatuh cinta dengan masakan Ummi? kenapa kami selalu rindu? kenapa rasa masakan Ummi itu tidak ada duanya bagi kami? Maasya Allah.

Teryata memang benar kata Aba, bahwa masakan Ummi itu dengan cinta, anak-anak. Iya, betul sekali, Ba. Masakan Ibu untuk anak-anaknya itu berbeda. Seberapapun nikmat dan mewahnya masakan restaurant karya para chef ternama, dengan skill dan pengetahuan mereka soal masak - memasak, bagi seorang anak yang tumbuh dengan masakan Ibunya, tetap ia akan selalu rindu. Entah bagi orang lain masakan itu biasa-biasa saja. Tetap bagi anaknya luar biasa.

Karena pemahaman itu, saya yang tadinya sebelum nikah cuek dengan dapur, cuek dengan kompor dan segala macam tentang masak, akhirnya mau belajar masak. Dan surprisenya, saya enjoy. 😁

Beberapa hari yang lalu saat saya sedang sibuk di dapur, suami saya komentar,  "Isyah, nanti kalau kita sudah punya rezeki lebih, kita pekerjakan pegawai yah, biar kamu tidak perlu lagi capek kerjain pekerjaan rumah tangga, tidak perlu lagi capek masak..."

Lalu saya jawablah, "boleh bangeet, tapi pegawainya kerja yang lain saja selain masak. Bantu masak okelah. Tapi yang masak biar saya saja."

"Loh, kenapa? Nanti saya juga perkerjakan chef ternama, sayang...tenang saja!" Iye, suami saya memang suka over kalau bermimpi.😑

Haha, bukan begitu...

Jadi... saya itu punya satu cita-cita sederhana. Saya ingin menjadi yang memasak makanan keluarga kita. Kakak, kutanya yah, Kakak selalu rindu tidak dengan masakan mama? Pasti iya kan.

Nah saya apalagi, masakan Ummi itu selalu bikin kangeeen. Makanya saya pun ingin anak-anak kita nanti seperti itu. Kadang kita anak-anak selalu punya masakan-masakan tertentu yang jadi favorit kita. Kadang pula dalam sebuah keluarga, mereka selalu punya masakan khas favorit semua orang dalam keluarga tersebut yang selalu dirindukan.

Itu dia. Saya berharap suatu hari nanti, saat anak-anak kita tumbuh dewasa, kemana pun ia pergi, ia selalu punya salah satu hal sederhana dari sekian banyak hal, yang membuatnya rindu dan selalu ingin pulang pada kita. Salah satunya itu adalah masakan ibunya.

Kita bisa memulainya dari sekarang. Dari keluarga kecil ini. Jangan lihat hari ini, orangtua kita juga dulu memulainya dari hal kecil, bukan? Jadi mulai sekarang, jangan bosan-bosan jadi kelinci percobaanku yaa... anda harus siap memakan apapun yang kumasak, entah itu enak ataupun tidak. Hoho. 😁😎

Khartoum, Subuh hari lebaran ke-4

Aisyah Ikhwan Muhammad, ketika merindu masakan Ummi. 😄

Kamis, 15 Juni 2017

Sendiri?


Dulu, saya adalah orang yang amat tidak senang dengan keramaian. Lebih tepatnya, saya menyukai sendiri. Saya akan menghindar dari pusat keramaian, dan lebih memilih mengurung diri di kamar. Menyibukkan diri dengan berbagai macam hal. Saat itu saya pikir bersama keluarga dekat saja sudah cukup.

Lalu perjalanan membawa saya pada suatu episode yang akhirnya membuat saya sedikit... ya, sedikit mengubah persepsi saya akan 'sendiri'.

Hari itu, di suatu rumah di negeri orang, jauh dari sanak keluarga, untuk pertama kalinya saya menangis sendirian. Benar-benar sendiri, dan sedang memperbaiki gagang pintu yang rusak. 😑 Hari itu masih amat jelas di dalam benak saya. Menjelang maghrib, saat ghubar (badai pasir) dan padamnya lampu datang bersamaan, saya menangis sambil terus memutar obeng hingga terpasang dengan baik. Lalu saat pintu tersebut akhirnya bisa menutup, saya lalu melanjutkan adegan drama dengan menangis sesegukan terduduk sendiri. Hari itu, untuk pertama kalinya pula saya membenci sendiri.

Setelahnya saya sedikit berubah. Saya tidak lagi terlalu membenci keramaian. Meski kadangkala saya tetap saja masih bersembunyi ke dalam "gua" saat terdesak. Tetapi pada akhirnya saya pasti akan memilih untuk kembali keluar.

Sendiri tidak selalu menyenangkan rupanya. Ya, Allah memang menciptakan kita berpasang-pasangan. Kita pun hidup berjamaah bukan tanpa tujuan. Lalu saya akhirnya paham. Bahwa mungkin memang ada saatnya kita butuh sendiri, tapi ada saatnya pula kita butuh berada di tengah-tengah orang banyak.

Kadang saya bertanya, kenapa pula saya sangat suka sendiri? Apakah karena diri yang terlampau introvert? ataukah keramaian terlalu bising? atau mungkinkah karena saya hanya ingin menghindar dari pertanyaan dan pandangan yang melelahkan dari orang-orang? Entahlah.

Apapun itu, kita semua tahu, bahwa sejatinya setiap kita, tidak pernah benar-benar sendiri.

قال الله تعالى: ﺇﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻛﺎﻥ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺭﻗﻴﺒاً

“Sesungguhnya Allah Maha Mengawasi kamu sekalian” (QS an-Nisaa’:1)

Selasa, 23 Mei 2017

Siapa Tahu Untuk Anakmu Nanti...


Sore itu, Kakak saya Nafisah yang akrab saya panggil Kakak Achi tengah sibuk mengepak pakaian anak-anaknya. Sebab selang  beberapa hari lagi ia akan meninggalkan bumi Sudan. Beberapa baju Abang Tiby anak Kakak Achi yang tak lagi muat dia tinggal saja. Saya masih ingat jelas saat dia bilang ke saya, "Aisyah.. ini baju Abang yang masih bagus-bagus kutinggal saja, nah. Kalau mauko kasi orang atau simpanmi saja. Siapa tahu untuk anakmu nanti." Saya yang mendengarnya hanya mengiyakan sambil tersenyum dengan setitik kesedihan di hati. Berharap hal itu benar akan terjadi.


Beberapa bulan setelahnya saya pun juga ikut pulang ke Indo. Saat packing barulah saya teringat dengan baju-baju abang tiby yang ditinggal tersebut. Karena tak ada waktu untuk memberikannya lagi pada orang, akhirnya saya lipat saja dan simpan alakadarnya di suatu tempat. Terbetik di hati, "siapa tahu untuk anakku nanti. Haha."


Kemudian Bulan demi bulan berlalu, hingga sampai pada bilangan tahun. Saya akhirnya kembali ke Negeri Sudan. Kali ini bersama Abang Dogan. (dan tentu saja bapaknya. 😅) Sebulan berlalu, kami akhirnya harus pindah dari rumah yang kami tempati. Dan malam ini saya sibuk packing karena besok kami sudah akan pindah. Dan coba tebak, Nafisah Muh Ikhwan! apa yang saya temukan di antara tumpukan pakaian yang lama tak disentuh. Ya! Baju-baju abang tiby saya temukan dengan lipatan yang masih sama persis saat saya simpan setahun lebih yang lalu. Langsung saja saya terngiang ucapan si mamak, "Siapa tau untuk anakmu nanti..." Oh ya Allah, bisa begini... Subhanallah 😢


Lagi yang membuat saya terharu adalah, baju-baju itu passs sekali dengan ukuran Abang Dogan saat ini. Seolah-olah memang direncanakan seperti itu. Dan memang benarlah adanya, bahwa telah Allah takdirkan demikian. Saya melipat kembali baju tersebut dengan banyak titik keharuan di hati. Alhamdulillah... hanya bisa bersyukur dan bersyukur.

"Simpan saja, siapa tahu untuk anakmu nanti." Ucap kakak achi satu setengah tahun yang lalu.

"Iya Kakak Achi, ternyata memang baju ini disimpan untuk anakku. " Ucapku baru bisa menanggapi hari ini.

Maasya Allah. Ternyata kadang, justru hal-hal sederhanalah yang membuat kita terkagum pada akhirnya.

Lalu saya kemudian bertanya-tanya, mengapa seringkali feeling si mamak itu (biidznillah) benar adanya?  hmm.. 🙄😄

#dramapackingmalam2 😂
Rabu, 22 Maret 2017

Catatan Untuk Diingat


Aku dulu tidak mengenalmu. Begitupun kamu tidak mengenalku. Kita adalah dua orang asing yang selama bertahun-tahun hidup tak pernah mengenal, bertemu, atau bahkan sekedar tau.

Kemudian tepat 4 tahun yang lalu, kau datang dalam hari-hari remajaku yang baru saja dimulai. Di saat pernikahan bahkan belum terbayang dalam benak citaku.

Aku masih ingat, saat harus mengulang istikharah demi memohon ketetapan hati. Lalu Allah sisipkan keberanian itu di dalam hati untuk kita memulai babak baru dalam hidup kita.

"Jika disuruh memilih antara meraih cita-cita atau berkhidmat kepada suami, yang mana yang akan engkau pilih?" Tanyamu pada hari dimana nadzar dilangsungkan.

"Aku memilih meraih cita-citaku, sebab di antara cita-citaku adalah berkhidmat pada suami." Jawabku saat itu.

4 Tahun berlalu. Musim terus berganti, begitupun kita masih terus belajar. Belajar menjadi lebih baik. Belajar bersyukur atas setiap nikmat. Belajar bersabar atas setiap keadaan.

Setelah ini tahun masih akan terus berganti, dan kita akan tetap di sini, bersama. Terus belajar dan belajar. Biidznillah.

Aku selalu teringat nasehat Aba, "Apapun yang akan kau hadapi dalam rumah tangga dan kehidupan ini, hadapilah dengan keimanan."

Hari ini, 4 Tahun yang lalu. #230313

Thank you, Allah ❤


Makassar, 23 Maret 2017.

Aisyah Ikhwan Muhammad. 
Senin, 03 Oktober 2016

Cuma Kamu.


Cuma kamu.

Cuma kamu yang bisa bikin saya ngambek, asli ngambek! untuk sedetik kemudian tertawa lagi. -_-

Cuma kamu yang bisa jadi orang paling nyebelin tapi saya sayang.

Cuma kamu yang bisa bikin saya rindu walau seharian kita sama-sama.

Cuma kamu yang bisa bikin saya cemburu dengan livescore dan notifikasi wahatsapp.

Iya, kamu yang cinta sekali sama peci malaysiamu. Yang paling pusing dengan noda di sepatumu, yang kalau makan masih belepotan.

Kamu yang mudah memaafkan dan meminta maaf.

Kamu yang selalu ingat bawa zalabiyah sepulang dars.

Pernah suatu hari beras kita habis, dan seharian kita makan bakwan karena yang ada adalah tepung terigu. Terus sambil kita makan berdua kamu bilang, "sayang, kalau tas jualanku laku besok kita makan pizza, ya! Dan saya tersenyum, kemudian diam- diam menangis terharu.

Iya, kamu yang bisa bikin saya senyum bukan hanya saat kita lapang tapi juga dikala sempit.

Kamu yang selalu disamping saya saat harus berpanas-panas di muwasholat. Kamu yang mengenggam tangan saya saat kita jalan berdua dibawah teriknya matahari sudan.

Kamu yang tidak malu menggandeng tas saya, dari yang masih model ransel anak sekolahan, sampe sekarang tas selempang warna pink. -_-

Kamu teman saya lomba lari di sahah khodro'. Kamu yang makan apa saja yang saya masak, dan bilang bahwa semuanya enak. Padahal aslinya ga tau.

Cuma kamu yang bisa jadi teman ngobrol terrr lama buat saya. Tempat saya curhat, ngomel, pote-pote, yang entah itu kamu benar-benar dengar atau tidak. :p

Cuma kamu teman berantem yang sangat saya cintai karena Allah. Kamu yang selalu bikin saya menangis dan tertawa. Marah kemudian bahagia. Kecewa lalu memaafkan.

Iya itu kamu, teman hidup saya 3 setengah tahun ini, dan untuk selamanya biidznillah.

Terima kasih untukmu yang selalu mencintai saya dan membuat sayapun selalu mencintaimu. Bagaimanapun keadaan kita.

Untukmu yang katanya sudah siaga 1, menanti yang kita rindu...

Semoga Allah senantiasa menjaga kita dan ridha atas setiap langkah kita.

Iya, cuma kamu dan akan selalu kamu. Biidznillah. Insya Allah.

Isyahmu.

Jumat, 05 Agustus 2016

Sebuah part kecil: "Drama ditinggal temus"


Harusnya sekarang ini saya memposting cerita umrah kemarin. Tapi entah kenapa saya kepikiran menulis yang lain. Labil memang. -_- Jadi beranda facebook saya itu lagi bermunculan berita mengenai temus (Tenaga Musiman Haji) tahun ini. banyak dari akun-akun PPI Timteng dan Afrika mengupload berita-berita terbaru seputar temus. Nah, jadilah saya flashback plus baper gegara teringat drama ditinggal temus tahun lalu. Padahal rasanya baru kemarin, ternyata sudah hampir setahun yang lalu.

Kenapa saya sebut “drama”? karena jujur, saya benar-benar seperti menjalani sebuah drama. Melodrama lebih tepatnya. Berat, amat berat. Meski begitu saya selalu meyakinkan diri, bahwa apa yang saya jalani saat itu pasti ada hikmahnya. Insya Allah! 

Selama 2 bulan saya terpaksa harus ditinggal suami di negeri orang. Jauh dari tanah air, di sebuah benua bernama afrika. Di negeri perjuangan bernama Sudan. Suami harus menjalankan amanah sebagai tenaga musiman haji, sekaligus menunaikan ibadah haji. Di satu sisi saya tentu sangat bersyukur. Bagi mahasiswa Sudan seperti kami, kesempatan itu tentu harus kami syukuri. Di sisi lain, ada yang harus dikobankan. Kondisi yang tidak memungkinkan bagi kami akhirnya membuat saya terpaksa harus tetap di Sudan.

2 bulan itu saya menghadapi banyak hal. Pengalaman dan pelajaran berharga, menangis, down, takut, dan merasa sendiri. Tanpa siapapun yang bisa saya andalkan kecuali Allah. Alhamdulillah di saat saya membutuhkan, Allah hadirkan orang-orang baik hati di sekitar saya. Jadi pada saat itu tidak ada yang bisa menemani saya di rumah, pun saya tidak berani untuk tinggal sendiri. Akhirnya selama 2 bulan saya menumpang dulu di salah satu rumah yang ditempati beberapa orang mahasiswi Indonesia-malaysia.

Alhamdulillah, mereka baik hati sekali mau mengizinkan saya tinggal disana. Kalau ingat kebaikan kakak Indonesia dan kakak malaysia, rasanya terharu sekali. Saya amat sangat bersyukur dan berterima kasih. Merekalah yang akhirnya membuat hari-hari saya tidak begitu kesepian. Pada saat itu saya memang belum mulai kuliah lagi. Saya lebih banyak dirumah.

Setiap 2-3 hari sekali, saya akan pulang ke rumah (rumah saya dan suami) untuk mencuci pakaian, membersihkan, dll. Rumah saya letaknya tidak jauh, jalan kaki sekitar 7 menit juga sudah sampai. Biasanya saya pulang ke rumah di pagi hari, dalam perjalanan saya kadang singgah di baqqolah membeli roti dan tho'miyah untuk sarapan. Setelah mencuci, beres-beres, nunggu pakaian kering, makan, tidur siang, (semuanya sendiri :p) sayapun balik lagi ke rumah kakak indo-malaysia. Saya selalu balik sebelum maghrib, sore hari setelah ashar. Awal-awal menjalani rutinitas tersebut saya kadang merasa sangat sepi… sendiri.

Setiap masuk ke rumah (rumah saya dan suami), saya baper lagi. :( salah satu yang kadang menambah ke-baperan adalah kalau lagi sendiri di rumah. Lihat baju-bajunya pak suami, sehari-hari tidak yang dimasakin, tidak ada yang bajunya menunggu disetrika, juga tidak ada yang sibuk minta dicucikan kalau pecinya ada noda sedikit. Tidak ada yang minta ditemani begadang belajar sampai tengah malam, tidak ada yang ditunggu ketukan pintunya yang lebih seperti gedoran -_- sambil bilang "assalamualaikum isyaah, ini kak rozi..." Setiap di rumah, saya coba saja untuk kuatkan hati. Alhamdulillah, seminggu-dua minggu berlalu, saya mulai terbiasa dengan rutinitas yang saya jalani.

Saya kadang masih menangis. Apalagi saat dihadapkan dengan berbagai masalah. Tanpa suami dan seorangpun keluarga di negeri orang, rasanya amatlah berat. Sejak awal saya datang ke Sudan, saya memang bersama suami. Sehingga saat harus sendiri jadinya lumayan shock. >_< Tapi dengan begitu saya semakin yakin, selama saya terus mendekatkan diri pada Allah, Allah yang akan jagain saya. Yakin, ada Allah yang melindungi saya.

Satu persatu masalah bermunculan. Mulai dari yang nampak maupun tidak (?) Suami dari jauh terus berjuang semampu yang dia bisa. Ummi dan aba juga tak henti mensupport dari berbagai sisi. 2 bulan itu saya belajar lebih mandiri, banyak bersyukur, bersabar, dan juga lebih berani. Contoh kecilnya: Suami saya itu orangnya sangat protektif, Alhamdulillah. Selama di Sudan jangankan naik muwasholat sendiri, naik reksya sendiri saja saya tidak boleh. Kemana-mana selalu bareng suami. Intinya saya itu anak rumah-kampus-rumah. Paling kalau jalan sendiri tidak jauh-jauh dari markaz dan jamiah. Soalnya rumah saya memang dekat jamiah banget. Sebab itu saat dia tidak ada, saya jadi harus belajar bagaimana tidak mengandalkan orang lain.

Akhirnya yang dulunya jalur muwasholat saja saya tidak tau jadi tau. Oh, kalau mau kesini naik bis yang ini. Bayarnya segini. Muwasholat kubri “kode tangannya”nya gimana, lain lagi kalau tujuan arobiy, sya’bi, dll. Lain pula dengan reksyah, kalau sudah tau harga aslinya tapi dinaikin sama ammu reksya, berarti kitanya yang mesti pintar-pintar menawar. Sebenarnya dari awal banget di Sudan juga sudah tau, tapi karena setiap jalan sama suami saya jarang memperhatikan, jadinya tidak terbiasa. Apalagi kalau soal jalan saya memang lamban. Jangankan di Sudan, di Makassar saja saya tidak hafal jalan. -_ - Oiya, untuk perkuliahan dan lika-liku ijroaat saya jadi lebih paham, yang mudah-mudah saja tapinya. :p Seperti periksa kesehatan, mengurus bithoqoh, bolak-balik jawazat jamiah, (kalau ke jawazat sya’bi sendiri mana berani -_-) Dsb. Biasanya kan ijroaat selalu sama suami.

Hal-hal kecil seperti itu jadi hikmah tersendiri buat saya. Nah, saat suami saya pulang malah dia-nya yang agak kaget. Mungkin dalam hati suami mikir, “istri gua 2 bulan ditinggal, kok berubah ya!?”:p Sebab sebelum dia temus, kalau kita jalan berdua biasanya saya mengikut saja. Sekarang kalau sudah tau mau kemana, saya thowwali naik bis tujuan. Dia lalu menyusul di belakang dengan muka bertanya-tanya. :p Misalnya juga kita lagi di jalan mau nyetop reksyah, sementara suami lagi nelpon, saya yang langsung menawar reksyah. hoho. Begitulah, lumayan menghibur.

Sungguh, 2 bulan tersebut menjadi cerita yang akan saya ingat untuk waktu yang lama. Kadang saat begitu banyak masalah, rindu, takut, dan sepi menumpuk dan sudah sangat menyesakkan, jadilah terbawa mimpi. Tidak jarang saat saya bangun ada air mata yang sudah mengering di pipi. Pernah juga kakak dari indo bilang ke saya, “aisyah, kamu tadi nangis pas tidur” ckck. Sepertinya saya ini memang kelebihan stock air mata. -_-

Lebaran Idul Adha telah tiba. Untuk pertama kalinya saya menjalani lebaran di negeri orang tanpa keluarga, tanpa suami. Alhamdulillah untuk setiap detiknya. Saya sungguh banyak belajar, bersyukur dan bersyukur. Akhirnya 2 bulan berlalu, dan pulanglah yang saya rindu dan tunggu-tunggu. 2 minggu sebelum suami pulang, saya juga sudah mulai kuliah. Kemudian berlalulah hari demi hari, semuanya kembali normal seperti biasa.

Masalah tentu tetap ada. Lika-liku tetap harus djalani. Naik turun jalan kehidupan itu sudah pasti. Namanya juga rumah tangga. Terlepas dari itu semua, saya dan suami belajar begitu banyak. 2 bulan perpisahan, saya di Sudan suami di Saudi. 2 bulan yang singkat tapi sangat bermakna, menjadi cerita dan satu part kecil yang akan kami kenang dalam rumah tangga kami. Suatu hari mungkin saya akan berkisah kepada anak-anak saya, “Dulu ummi pernah loh tinggal di Sudan bareng abi. Hidup susah senang sama-sama. Pernah juga ummi 2 bulan di Sudan ditinggal abi haji, dan semua itu dapat terlalui dengan izin Allah. Kemudian keinginan dan tekad yang kuat, juga keberanian.”

Cerita kenangan ini akhirnya menjadi pengingat sekaligus penyemangat bagi saya. Hari ini dan mungkin di hari-hari yang akan datang. Mungkin juga cerita ini hanya cerita sederhana, part kecil namun ternyata penting. Sebab sekecil, sesingkat, dan sesederhana apapun suatu perjalanan dalam rumah tangga, bukankah ia tetap bagian dari seluruh perjalanan? Semoga Allah senantiasa membimbing kami dalam setiap perjalanan ini…  


Makassar, Jum’at 5 Agustus 2016.


Aisyah Ikhwan Muhammad.





Senin, 01 Agustus 2016

Akhirnyaaa...



Akhirnyaaa, buka blog lagi. Setelah postingan terakhir di bulan april, saya belum lagi menulis cerita kenangan apapun. Padahal di kepala ini sudah banyak sekali yang ingin saya tuliskan. Tentang kepulangan ke indonesia. Umrah 3 hari part 2, kebersamaaan dengan keluarga, kemudian tanpa terasa sudah 6 bulan di negeri tercinta. Juga tentang LDR part 4 dan bumbu-bumbunya, nangisnya, ketawanya.  Juga tentang rindu, rindu, dan rindu. Hingga akhirnya Allah izinkan untuk melepas kerinduan itu lewat pertemuan dengan abi-nya yang ditunggu dan amat dirindu. 

6 bulan ini banyak sekali yang terlalui. Diantara semua itu, kehadiran dia yang dinanti dan dirindu menjadi kebahagiaan yang teramat kami syukuri. Alhamdulillahilladzy bini’matihi tatimmush sholihaat J

Bisa dibilang sejak berangkat kesudan 2013 lalu, kepulangan kali ini adalah yang teeeer-lama. Dan belum tahu balik sudan-nya kapan. Hahah. :p  ‘alaa kulli haal, postingan kali ini saya sebenarnya mau menulis cerita kenangan. Tujuannya seperti yang selalu saya tulis dalam setiap postingan, “untuk dikenang” suatu hari nanti.

Jadi ceritanya, semenjak drama “ditinggal temus” berakhir, saya dan suami sama sekali tidak ada niatan untuk pulang. Dikarenakan suami yang lagi sibuk dengan s2-nya, sayapun lagi kuliah dan akan imtihan di bulan januari. Ditambah pula dengan kondisi kami yang belum memungkinkan. Hingga akhirnya karena beberapa alasan tertentu, kami harus pulang. (harus banget? :p) Kemudian segeralah suami mengurus segala sesuatunya, seperti khuruj audah, dsb. Sementara saya si istri sholehah (aamiin :D) sibuk dengan persiapan imtihan.

Karena pulangnya naik saudia, otomatis kami transit Jeddah. Alhamdulillah-nya bisa sekalian umrah, kita tinggal mengurus visa transit 3 hari. Jadinya selama 3 hari kami bisa keluar Jeddah. Suami memilih ke madinah terlebih dahulu, baru kemudian berangkat ke-mekkah agar pulangnya lebih dekat ke Jeddah.

Setelah fix akan pulang dan imtihan selesai, mulailah saya sibuk (baca:pusing) dengan episode mengepak buku-buku suami yang dengan hebohnya mau dia bawa pulang semuaaaaa. Katanya biar nanti kalau sudah selesai di sudan, tidak kewalahan. Bayangkan saja, buku-buku dari jaman dia tahun satu, masih kurus :p, jauh sebelum nikah, sampai 5 tahun di sudan harus saya sortir semuaaaa. Butuh 2 hari buat selesai. Itupun disela-sela kesibukan pak suami yang sibuknya Maasya Allah! -_- total bagasi kami bikin deg-degan, takut over bagasi. Isinya 80 persen buku semuaaaa, baju-baju dikorbankan, lebih banyak yang ditinggal. Tak apalah. Demi pak suami, ibu istri rela. 

Tanggal 3 Februari, kami akhirnya berangkat menuju Jeddah. Saat check in, saya harap-harap cemas, berdoa semoga barang kami tidak over bagasi. Alhamdulillah semua koper beserta kardus berisi buku lolos. Setelahnya barulah saya bisa tenang.  Meski begitu saya dan suami harus kuat-kuat mengangkat ransel dan koper kecil untuk dibawa ke cabin, sebab isinya benar-benar kami maksimalkan semuat-muatnya. Hahaah. Kemudian berangkatlah kami ke Jeddah…


Bersambung di postingan Umrah 3 hari part 2…



Who am i?

Foto saya
Khartoum, Al Khartoum, Sudan
Ikhwan's No.3 | Fakhrurrazi's 💍| Cintanya Al amin Muhammad| Student Mom yang menikah di usia 16 dan masih terus belajar menjadi Ibu, Istri, dan anak yang sholihah.

Followers