Senin, 29 Juni 2015

Mengapa Sudan?


Sebagai salah seorang perantau di sebuah negara di benua afrika ini, saya kerap kali di lontarkan berbagai macam pertanyaan yang klise menurut saya. “Apa yang membuat saya betah di Sudan? kenapa memilih sudan? bukankah di Sudan beasiswanya kecil?  bukannya disana panas banget yah? apa disana aman? kerusuhan kah?” dan masih banyak lagi pertanyaan yang kadangkala jika sudah malas saya jawab, hanya akan saya tanggapi dengan senyuman penuh arti. :p

Jangankan teman-teman, petugas kepo bandara soekarno hatta saja beberapa kali menanyakan pertanyaan yang sama dengan raut wajah heran, “mau ke sudan, mba? ngapain disana? bukannya lagi perang yah?” Sambil memindahkan koper saya hanya menanggapinya dengan santai, “Iya, mau kuliah, ga ada perang kok, pak, saya kuliahnya di Khartoum, Insyaa Allah aman.” “oh gitu, oke hati-hati ya, mba.” ucap si petugas bandara menanggapi.

Sebenarnya sejak awal saya juga tidak pernah terpikirkan untuk memilih bumi Sudan sebagai tempat saya menimba ilmu, takdir Allah lah yang membawa saya ke sini, setelah sebelumnya saya ditakdirkan pula untuk menikah dengan seorang pria yang kebetulan kuliah di Sudan. Hoho. Jadi  mau tidak mau saya harus ikut suami ke Sudan. Nah dari sinilah niat itu tertanam, bahwa saya ke Sudan adalah untuk mendampingi suami dan menuntut ilmu.

Semenjak hidup di Sudan ada banyak hal yang dipertontokan dengan nyata kepada saya, bahwa inilah kehidupan. Sungguh saya belajar banyak hal disini. Menjelang 2 tahun di Sudan, pelajaran dan makna-makna hidup yang saya dapatkan luar biasa banyaknya. Alhamdulillah.

Seingat saya, kami tiba di Sudan menjelang subuh hari sehingga panasnya belum terlalu terasa, nah saat siangnya saya diajak keluar oleh suami untuk membeli beberapa kebutuhan, di situlah saya merasakan tamparan-tamparan angin hot yang luar biasa, tapi Alhamdulillah pada saat itu saya tidak berkomentar banyak, mengapa? karena sebelumnya suami sudah mengingatkan, “ini belum panas yah, masih ada yang lebih panas.” -_- 


Adapun para mahasiswa di Sudan sudah lebih memahami dan bisa berkompromi dengan perubahan cuaca ekstrem yang terjadi di sudan. Sebenarnya mereka bukannya sangat tahan panas dan tidak merasakan beratnya cuaca ekstrem, namun seiring berjalannya waktu, mereka sudah sudah lebih tahu bagaimana beradaptasi dan berinteraksi di tengah cuaca yang panas membara, Mereka tetap bisa tersenyum bersama meski di hempas angin yang sungguh hot. “Bagai di elus-elus besi panas, yah.” canda suami saya di suatu waktu. “Sudan ngga panas kok, cuman hangaaat” celetuk teman suami di lain waktu. Mereka yang telah menjalani suka duka kehidupan sudan sudah lebih terbiasa. Panas membara hampir di sepanjang tahun bukan lagi suatu hal yang aneh, mereka bahkan lebih sering memilih menjadikan panas sebagai bahan gurauan dan ajang untuk memperbanyak rasa syukur ketimbang mengeluh pada keadaan. MaasyaAllah..:)


Lalu bagaimana kehidupan di sudan? iya seringkali kami memang kesulitan dan kesusahan. Tapi susah tidak harus selalu payah, bukan? sulit juga bukan berarti tidak bisa meraup Ilmu yang bermanafaat sebanyak-banyaknya, serta pengalaman hidup dan pelajaran-pelajaran berharga yang tidak kalah pentingnya. Kesulitan tidak serta merta bisa menghalangi kebahagiaan. Memang sedikit sulit mendeskripsikan bagaimana kehidupan di Sudan dengan kata-kata, mungkin memang hanya merekalah para perantau negeri 2 nil ini yang bisa memahaminya dengan baik. Jadi jika ingin tahu, ayo ke Sudan. hoho.

Sebenarnya penggambaran selama ini bahwa afrika terkhusunya Sudan itu menyeramkan tidaklah sepenuhnya benar. Serius loh, ada banyak keindahan di Negeri 2 Nil ini, (di sebut negeri 2 nil disebabkan Sudan adalah negeri tempat bertemunya 2 anak sungai Nil yaitu nil putih dan nil biru). lalu dimana letak keindahan Sudan? ya, kita memang harus mencarinya dengan seksama. Sebab keindahnnya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, tidak pula selalu bisa digambarkan secara fisik, tapi ia tumbuh perlahan di hati. J

Lalu apa yang paling membuat saya betah di sudan? Saya pikir itu karena ilmu. Semenjak saya kuliah di Ma’had lughoh, saya bertemu dengan berbagai macam orang dari berbagai negara, dengan bahasa yang beragam  namun dipersatukan dengan bahasa arab. Bertemu dengan ustadzaat yang luar biasa menurut saya, di Sudanlah saya memulai kembali menuntut ilmu di bangku kelas :p saya belajar bahasa arab dan ilmu-ilmu syar'i, dan juga yang tidak kalah penting, saya belajar bagaimana bergaul dengan orang-orang dari berbagai negara. Sedikit banyak saya mulai mengenali karakter-karakter mereka yang sangat beragam, menjadi akrab, teman, bahkan sahabat yang sangat dekat di hati.

Setelah sedikit-sedikit sudah lebih paham bahasa arab, suami mulai mengajak saya mengikuti kajian atau talaqqi di Sudan. Alhamdulillah bertumpah ruah rasa syukur bisa menimba ilmu langsung dari para Ulama' di Sudan ini, duduk di majelis mereka, meski belum paham sepenuhnya, tapi setidaknya dengan banyak mendengarkan, insyaAllah akan lebih terbiasa.

Jadi kala di tanya apa yang membuat saya betah di sudan? Maka dia adalah ilmu. Rasanya kesulitan yang saya hadapi di sudan ini sangat tidak pantas untuk dibandingkan dengan ilmu yang saya dapatkan. Begitu pula ketika saya bertanya kepada suami, apa yang membuat dia betah 5 tahun di Sudan, jawaban yang sama akan dia ucapkan, ilmulah yang membuat dia betah, dan tentunya selain ilmu, kebersamaan kami berdua pula yang membuat kami betah. ya iyalah masa LDR terus.

Selain itu kebersaman dengan para mahasiswa Indonesia yang ada di sudan juga menambah kehangatan dan kesyukuran, juga para ummahat (ibu-ibu) di Sudan, sebagian dari mereka ada yang sudah lama menetap, mereka membangun keluarga, melahirkan dan membesarkan putra-putri mereka disini sambil terus menuntut ilmu. Mereka tampak kuat dan sabar menjalani tahun demi tahun perjalanan di tanah rantau, sebagian dari mereka ada yang bahkan tidak pernah pulang ke tanah air selama bertahun-tahun. Maasya Allah. Mereka pula yang selalu memotivasi saya untuk semangat menuntut ilmu di Sudan, meski sebagian dari mereka sudah banyak yang kembali ke tanah air disebabkan studi yang telah selesai.

Setiap kali kesulitan melanda, suami selalu meyakinkan saya, dan dengannya saya meyakinkan diri sendiri bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan usaha hambaNya, bahwa yang kita butuhkan adalah usaha dan doa terus menerus, kemudian tawakkal, menyerahkan semuanya kepada Allah. disaat ujian datang silih berganti kembali saya mengingatkan diri sendiri akan niat awal kedatangan, bahwa saya datang untuk mendampingi suami dan menuntu ilmu, dengannya semangat akan kembali tumbuh. Saya juga banyak belajar dari suami yang sudah lama di negeri ini, ia tipe orang yang sangat optimis (kadang malah kelewat optimis :p), selalu ia nasihatkan kepada saya agar tidak khawatir makan apa esok hari, bagaimana membayar sewa rumah, bagaimana ini dan bagaimana itu, namun sebaliknya, sekali lagi terus saja berdoa, berusaha, dan bertawakkal, dan yakinilah bahwa pertolongan Allah itu dekat.

Saya jadi teringat saat suami saya banyak menceritakan jatuh bangun kehidupan bujangnya selama di Sudan, demi memenuhi kebutuhannya dan tidak membebani orangtua di tanah air, dia mencoba bekerja sampingan sambil kuliah, semua demi terus bertahan hidup dan menuntut ilmu di negeri Sudan. Bukan hanya suami saya, bekerja ataupun berbisinis adalah suatu hal yang lumrah bagi para mahasiswa-mahasiwi di Sudan. Kadang ada yang menjual makanan,  pernak-pernik, barang elektronik, ataupun mengajar privat, itu semua demi memenuhi kebutuhan mereka tanpa harus terus bergantung pada orangtua di Indonesia apalagi bagi yang memang tidak mendapat kiriman dari orangtua maupun donatur. Beasiswa di Sudan hanya cukup untuk membayar biaya kuliah, asrama dan makan, selebihnya ditanggung sendiri, tidak ada mukafa'ah, karena itulah bekerja sampingan kadang menjadi pilihan selama ia tidak melenakan dari menuntut ilmu tentunya.

Dan lagi-lagi inilah secuil mengenai Sudan, meski dengan berbagai kekurangannya, dengan ke”hangat”annya, kesulitan hidup, mahalnya harga kebutuhan, sulitnya mencari rumah dengan biaya sewa yang sesuai, beasiswa  minus mukafa'ah yang sebagian besar hanya diperuntukkan bagi mahasiwa S1, belum lagi pengiriman uang yang sulit (tidak bisa melalui ATM), ditambah pengurusan administrasi yang seringkali bikin mumet dan kadang "sedikit" memancing emosi... ya begitulah, Insyaa Allah segala halangan rintangan (membentang tak jadi masalah dan tak jadi... *abaikan*) tidak akan menyurutkan langkah para perjuang di Sudan, biidznillahi ta'ala. :) dan jujur saja, dengan berbagai ke”gado2annya” negeri Sudan ini, saya sejak awal sudah merasa, bahwa suatu saat jika saya harus meninggalkan Sudan, maka saya akan benar-benar  kangen sekangen-kangennya dengan berbagai macam keunikan dan nano-nanonya tinggal di negeri ini. Semoga semua penempaan di negeri ini semakin  menguatkan bukannya melemahkan, dan semoga pula pengalaman hidup di tanah rantau ini menjadi bekal yang berati buat kita di masa yang akan datang. Aamiin. 

Lalu apa indahnya Sudan? kan sudah saya tulis di atas tadi :p indahnya sudan itu tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. tapi ia dirasakan disini, di dalam hati, broo. :)

pemandangan sungai nil putih sewaktu rihlah ke jabal aulia. :) 

Khartoum, baru di posting 29 Juni 2015 (setelah ditulis beberapa bulan yang lalu dan nangkring di laptop sekian lama) :p


Aisyah Ikhwan Muhammad.




Tentang Ramadhan



Tentang Ramadhan...

Ramadhan adalah bulan suci penuh berkah yang selalu menyimpan sejuta kenangan tak terlupakan bagi siapapun dan dimanapun. Berjuta rasanya setiap kali mengenang episode-episode ramadhan yang telah saya lalui sepanjang  18 tahun hidup ini. Dari kecil hingga tumbuh besar, memory tentang ramadhan adalah yang paling selalu melekat kuat dalam hati dan pikiran.

Seperti hari ini, ketika saya lagi-lagi menyadari bahwa sebentar lagi ramadhan akan tiba, spontan muncul begitu banyak rasa yang bercampur aduk mengenang setiap ramadhan yang telah terlaui. Untuk setiap detiknya saya cuman bisa bilang, rindu rindu rindu!

17 kali ramadhan, dan tahun ini adalah ramadhan ke-18. Ada yang berbeda, jika sebelumnya setiap kali ramadhan saya berada di Indonesia, kali ini saya di negeri ini, di negeri Sudan, tahu Sudan kan, bro? Ituloh negara yang sangat kece badai nan terkenal se-seantaro dunia. :P  

Meski belum tahu akan seperti apa rasanya menjalani ramadhan di Sudan, saya tetap optimis dan sangat menanti ramadhan kali ini. Kata suami saya, bulan ramadhan di sudan cuaca akan terasa sangat amat HOT. Wew -_- ini aja masih 2 bulan sebelum ramadhan, suhu sudah sering mencapai 45 derajat celcius, Tapi insyaAllah bisaa! Buktinya teman-teman di sini yang sudah berkali-kali menjalani ramadhan di Sudan masih sehat wal ‘aafiyah. Heheh.

Beberapa hari ini saya mulai mempersiapkan kondisi fisik (?) saya sebelum memasuki ramadhan, biidznillah. Ya berhubung saya penderita magh kronis. Suami juga sudah mulai agak sangar mengontrol masalah makan, terlebih soal makan pedas dan tidak makan sama sekali seharian. Hoho. Jadi ingat pas kemarin cokko2 (ngumpet) makan mie kuah extra pedas yang akhirnya ketahuan -_-

Yang juga banyak terkenang dari setiap bulan ramadhan yang telah saya lalui adalah soal penyakit maghku tercinta ini. Sedari kecil, setiap bulan ramadhan ummi pasti mengontrol dengan ketat apa  yang saya makan saat sahur dan buka puasa. Setiap sahur saya wajib makan nasi, lauk, pisang ambon, kurma, minum madu obat, dan air putih yang banyak. Begitupun saat berbuka. Disaat kakak saya dengan ganasnya langsung menyantap es buah, ummi selalu mengawasi, saya harus mulai dari air putih, atau minuman hangat, kemudian kurma, dan barulah boleh makan dan minum yang lain. Sebab jika tidak begitu, maka jadilah saya setiap hari terkapar, muntah, lemas, bisa jadi dehidrasi, dan puncaknya adalah tiduran di rumah sakit, again. Nah  otomatis kalau sudah begitu tidak akan sanggup puasa dong. Makanya dari kecil sampe sudah menikah bahkan, setiap kali sahur dan buka, ummi masih tidak pernah bosan mengingatkan, “aisyah sudah makan pisang? Kurma juga jangan lupa!” “aisyah, jangan langsung minum air dingin. Ingat2 penyakitmu nak” (tuh kan, jadi rindu ummi L

Diantara sekian banyak moment ramadhan, tahun kemarin adalah yang sangat berarti buat saya. Setelah berbagai macam nano-nano hidup, ada keluarga tempat meleburkan segala rasa, dan selalu menjadi tempat bagi kita untuk kembali pulang. Ramadhan tahun kemarin saya harus pulang ke indonesia, sementara suami punya jadwal ujian yang otomatis membuat dia tetap di sudan. yup LDR-an lagi. :(

Alhamdulillah tahun kemarin Allah berikan kesempatan untuk menjalani ramadhan bersama keluarga tercinta, bersama ummi aba, kakak achi, kakak bibi, adek unyu-unyuku si reyhanG, umarku tersayang , juga bersama ponakan2, sepupu2, mama ani tercinta, tante2 yang berisik tapi ngangenin.

Yang sangat special dari ramadhan tahun kemarin adalah kebersamaan yang sangat berkualitas rasanya. Ummi aba yang biasanya sangat sibuk menjadi sangat sering di rumah, terutama ummi yang hampir full time di rumah. Selama sebulan penuh ummi terus memasak berbagai macam makanan yang..yang...sungguh tidak sanggup lagi sayaa katakan, yang..enaknyaaaa tak terbahasakan T_T ummi dan aba hampir full sebulan selalu buka puasa dan sahur di rumah bersama. Di tambah pula 10 hari terkahir, kakak icha ikut menginap dirumah bersama para krucil2nya, yakni abang jaza, adek tibiy dan kakak syifa. Sementara suaminya dan kakak ubaid i’tikaaf. Waduh, bertambah ramelah rumah. Berisik, gaduh, semi kacau tapi ngangenin parah. Suasana heboh seperti itulah yang selalu saya rindukan. Maklum rumah saya di Sudan hanya diisi oleh 2 manusia yang agak labil. Kadangkala kami dengan sengaja membuat kegaduhan agar rumah terkesan rame. -_-

Ramadhan tahun kemarin juga sangat terasa special dengan sholat tarawih berjamaah di masjid yang selalu hits di Makassar setiap bulan ramadhan. Dengan pak imam yang tentu juga hits (bukan hits obat nyamuk nah. Hits terkenal maksudnya) sepulang sholat tarawih bolehlah singgah cari makan. Sampai di rumah masih juga heboh bin berisik. Masih beraktifitas layaknya siang hari padahal jarum jam sudah berganti hari. Kadang hanya tidur beberapa jam dan bangun kembali. Saya, ummi, dan si reyhang, akan bergiliran setiap hari untuk menyiapkan makanan sesuai jadwal untuk sahur sekeluarga. Setelah sahur biasanya aba akan melanjutkan dengan memberikan nasihat subuh yang selalu menyejukkan, kadangkala diselingi dengan “nak, ambilkan dulu obatnya aba” (tuhkan jadi rindu abaa.. T_T)

Ramadhan tahun kemarin juga lebih berati dengan kehadiran partner murojaah yang masya Allah sangat memotivasi. Meski murojaahnya kakak icha sambil di recokin krucil 2, nyetor  hafalan tetap saja lancar maasyaAllah. Beda sekali dengan saya yang saat menghafal maupun murojaah seakan berpindah ke dunia lain. Butuh fokus dan konsen yang amat sangat, apalagi saat puasa, sampe terkadang pake penutup mata dan telinga segala -_- yaa begitulah sekilas kenangan-kenangan ramadhan di tahun kemarin.

Dengan berbagi momen yang telah saya lalui, saya sangat sadar, bahwa saya wajib sewajib-wajibnya untuk senantiasa bersyukur sebanyak-banyaknya kepada Allah atas apa yang telah saya lalui. Ada begitu banyak orang di luar sana yang jangankan menjalani hari-hari di bulan ramadhan bersama keluarga, untuk sekedar sahur dan berbuka pun mereka harus berjuang begitu keras. Teringat mereka para perjuang fii sabilillah di medan jihad, di Suriah, di Palestina, di Yaman, dan di berbagai belahan dunia lainnya. :’(

Ramadhan tidak lama lagi, semoga kita semua dapat melalui ramadhan dengan keikhlasan dan hati penuh suka cita, semoga kita semua telah siap menyambut tamu agung yang yang sangat dirindukan,  yang akan datang dan pergi begitu cepat, meski kita tidak tahu bahwa akankah Allah mengizinkan kita untuk melewati ramadhan kali ini, meski kita tidak tahu akan seperti apakah ramadhan kita kali ini.

Semoga Ramadhan kita tahun ini menjadi ramadhan yang indah nan berberkah, melengkapi setiap episode Ramadhan yang telah kita lalui, menjadi kenangan dan pembelajaran berarti yang terus melekat kuat di dalam hati dan pikiran, di sepanjang hidup kita. Aamiin. 

Khartoum, 30 April 2015

Aisyah Ikhwan Muhammad



Awal musim panas SUDAN 2015 dan drama pindah rumah :p



Musim dingin sudah berlalu dan benaran sudah lewaaat. Sampai-sampai saya seakan lupa bagaimana rasanya musim dingin kemarin.  Padahal saya sudah bersemangat sekali, soalnya kata suami, selama hampir 5 tahun disini musim dingin tahun inilah yang paling dingin, di siang hari suhu bisa dibawah 10 sampai 5 derajat, apalagi kalau subuh hari, namun ternyata sangat singkat watunya. :P namanya juga afrika musim panasnya memang lebih mendominasi hampir di sepanjang tahun.

Beberapa hari ini, panas sudah bukan sekedar menyapa lagi, tapi dia sudah sungguhan menampakkan diri tanpa ragu-ragu. Tidak seperti beberapa minggu yang lalu saat cuaca masih labil-labilnya dengan suhu yang naik turun macam harga BBM di Indonesia.

Di awal musim panas ini, saya sudah menempati rumah (sewaan) yang baru. Padahal kalau bertanya ke hati saya, saya sudah sangat betah di rumah yang dulu. Dengan lokasi yang cukup dekat dengan Jami'ah dan harga yang sesuai dengan rumahnya, belum lagi saya dan suami sudah satu setengah tahun menetap disana,  ada banyak kenangan mulai dari awal- awal kedatangan, sedih, bahagia, galau, semangat, jatuh bangun semua di mulai dirumah itu. Bahkan awal kehidupan rumah tangga saya di mulai dirumah itu. Hingga 2 tahun pernikahan saya masih di rumah itu. Meski bertepatan setelah 2 tahun pernikahan, besoknya saya sudah harus angkat kaki. -_-

Bisa dibilang, kepindahan saya ini sedikit berbau drama. Setelah si yang punya rumah menaikkan harga sewa yang lumayan mencekik (?) kami akhinya memutuskan harus pindah, meski sebelum keputusan itu suami masih terus membujuk si yang punya rumah, tapi saat sudah mentok, akhirnya kami minta keringanan paling tidak memberikan kami waktu sampai setelah saya dan suami selesai imtihan (ujian). Akhirnya dia setuju, dan jadilah saya dan suami menjalani hari-hari imtihan sambil sibuk mencari rumah dan lumayan deg-degan tapi masih terus tawakkal bahwa akan ada jalan In syaa' Allah.

Setelah saya dan suami akhirnya selesai imtihan, di mulailah episode berkeliling mencari rumah yang  kami hanya diberi waktu seminggu oleh si yang punya rumah. Di Sudan mencari rumah itu tidak mudah. Kadang ada yang harganya sangat mahal padahal rumahnya tidak sebanding. Karena itu mencari rumah disudan butuh  tenaga dan waktu yang tidak sebentar, namun Alhamdulillah tepat sebelum waktu yang diberikan habis, suami akhirnya mendapat rumah yang disewakan tidak jauh dari rumah yang kami harus angkat kaki darinya (?). Meski waktunya mepet sekali dan sudah bikin deg-degan kalau-kalau kami beneran diusir padahal belum dapat rumah. *ckck. Sampai  adek di indonesia sudah komen, “kalian berdua itu tingkat ketawakkalannya tinggi sekali yah, masa besoknya udah mau disuruh minggat dapat rumahnya baru hari ini.” Hahahaa.

Dimulailah proses angkat barang. Saya sih tentu tidak ikut angkat barang ya, saya cuman menggandeng tas saya sendiri, dan bantal dua biji. Hahaa. Selebihnya diangkat oleh suami dan teman-temannya yang asli kassa’2 (kuat) sekalee. Masa koper yang gedenya muat satu orang bisa diangkat seorang diri, dan ini tidak pake mobil loh, dia ngangkatnya jalan kaki saja. MaasyaAllah. Sangat bersyukur, disaat membutuhkan ada banyak orang yang bersedia membantu. Proses pindah barang selesai, sekarang giliran saya dan suami yang sibuk beres rumah. Atur sana atur sini, angkat ini angkat itu. Dan akhirnya sudah  lumayan rapi dan bersih beberapa hari kemudian. Alhamdulillah.

Dan disinilah saya, sang  istri yang fulltime dirumah *asik. masih sibuk beres-beres berbagi macam hal dirumah, bikin sarapan tidak lagi buru-buru :p, bisa masak dengan tenang di pagi hari, membersihkan rumah dengan santai, dan malamnya tidak perlu nyuci baju lagi karena sudah dikerjain di pagi hari. Soalnya kalau kuliah jadi terbalik, berhubung saya kuliah pagi dari jam 8 sampai siang. Tapi setelah sebulan ini tidak kuliah karena saya sudah selesai Ma’had Lughoh, jadi ada sedikit kebosanan yang harus saya tepis. Masih harus menunggu beberapa bulan lagi. Ya setidaknya saya bisa berisitirahat sebelum kembali memulai proses ijroaat kuliah S1 dan setelahnya insyaAllah memulai perkuliahan (kalau lulus) aamiiiin.

Di rumah yang baru ini alhamdulillah saya sudah mulai bisa beradaptasi, Meski dihari-hari pertama masih berasa lumayan tidak nyaman dan sedikit takut. Sampai ditinggal suami sholat saja saya sudah meneror dia dengan sms-sms yang isinya kurang lebih sama “kak, cepatki pulang, takutkaa >_<” kalau kata ummi sih rumah baru memang seperti itu, apalagi rumah ini memang belum pernah ditinggali sebelumnya *mulaihorror* karena itu saya dan suami bergantian membaca surah Al Baqarah, atau paling tidak memutar murottal surah Al Baqarah, dan terbukti, setelah rajin membaca surah Al Baqarah, perasaan saya jadi lebih nyaman. Hehe. Intinya saya sangat bersyukur, dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya, saya dan suami sudah mendapatkan rumah untuk ditinggali, setidaknya hingga beberapa bulan kemudian. 


Cerita Imtihan




Cerita Imtihan (Ujian).

Imtihaan atau ujian yang akan saya bahas saat ini bukanlah mengenai imtihan kehidupan tapi lebih kepada imtihan di kampus dan bumbu-bumbunya. Hehe

Institute of Arabic language, international university of africa adalah institute yang khusus mengajarkan bahasa arab dan tsaqofah islamiyah, bisa dibilang Ma’had Lughoh ini adalah semacam kelas persiapan bahasa yang di indonesia mungkin lebih dikenal sebagai I’dad Lughawiy. Di Ma’had lughoh ada 3 Mustawa (semester) setiap mustawa nya tiga bulan, dan setiap 3 bulan itu pula akan ada ujian untuk naik ke mustawa berikutnya.
Nah berhubung saya hanya akan menceritakan soal bumbu-bumbu imtihannya, maka  saya skip dulu penjelasan soal ma’had lughoh. Selama 3 kali imtihan ini, dua diantaranya berdekatan waktunya dengan jadwal imtihan suami saya yang pada saat itu sedang kuliah  di Fakultas Islamic studies, international univ. Of africa

Karena itu sejak awal kami sudah saling bersepakat bahwa siapa yang sedang menjalani imtihan, maka akan di support penuh oleh yang tidak imtihan. Misalkan suami sedang imtihan maka suami untuk sementara tidak dulu membantu saya dalam pekerjaan rumah seperti biasanya. Dia hanya fokus belajar, dan saya yang mengerjakan pekerjaan rumah, saya akan menemani dia begadang, minum kopi, makan cemilan, dan menyemangati. Sebaliknya jika saya imtihan, hhm.. tentu peraturannya tidak akan sama persis. Haha.. saya tetap mengerjakan perkerjaan rumah tapi  beberapa jadwalnya akan dibagi. Seperti mencuci piring dan mencuci baju. Adapun membersihkan rumah dan memasak tentunya tetap saya. Secara dia tidak berbakat dalam hal membersihkan rumah, apalagi jika harus dia kerjakan sendiri. Haha. Tapi dia akan lebih mensupport saya dalam hal belajar, dia banyak membantu saya untuk pelajaran-pelajaran yang tidak saya pahami, menemani saya begadang, meski kadang lebih sering menggangu konsentrasi saya. -_-

Seperti saat imtihan mustawa 1 dan dia imtihan entah mustawa berapa saya sudah lupa.*toeng Semuanya berjalan sesuai dengan komitmen bersama. Alhamdulillah dia dan saya mumtaz, biidznillah. Imtihan mustawa 2 juga masih dengan kesepakatan itu.  Meski setelah imtihan mustawa 2 saya balik ke indonesia dan  saat suami ujian akhir S1 saya tidak mendampingi, L. Tapi kemudian semua berubah *bahasa apami ini* tatkala saya imtihan mustawa 3. Tanpa kami duga, jawal imtihan kami sangat amat berdekatan bahkan hanya beda sehari. Belum lagi suami yang sekarang sudah S2 (Tapi tetap tidak mau saya bilangin sudah Lc, katanya belum pantas. :P) jadi kesepakatan yang dulu itu entah sudah sirna atau saya dan suami yang pura-pura lupa.
Karena jadwal imtihan yang berdekatan, Jadi  tidak teraturlah pekerjaan rumah, kerjanya suka rela. Masak sih tetap saya tapi itupun yang praktis saja. Bikin cemilan dan minuman pas begadang juga suka rela, siapa saja yang lagi baik hatinya :P,  kita juga  jadi jarang ngobrol, sampai-sampai belajarnya di tempat terpisah. Saya di ruang tamu, suami di kamar (ini kebalik yah -_-) kenapa harus di ruang terpisah? Karena saya dan suami tipe orang yang kalau lagi belajar itu berisik nya minta ampun! Tidak ada istilah menghafal dalam hati, sudah macam menghafal quran mesti dijaharkan. Haha. Dan lagi kita sama-sama orang yang kalau lagi serius tidak bisa diganggu.  Jadi lah masa-masa imtihan kemarin kami bagaikan dua orang yang hidup dengan dunia masing-masing. Paling kalau mau berangkat ke kampus barulah saling menyemangati. Selain itu sudah  tidak terjelaskan, masih di dunia lain (?)

Alhamdulillah meski begitu, kami berdua tetap optimis (pasrah) dengan nilai kami berdua. Nilai saya sudah keluar, tinggal tunggu nilai suami. Setelah imtihan kami berdua memang sudah sama-sama sepakat, berapapun nilai kita berdua, mumtaz tidak mumtaz harus tetap bahagia *alasan. Lalala~*

Alhamdulillah masa imtihan kali ini sudah berlalu, masa-masa yang menegangkan sekaligus seru dan dirindukan. (serius?) hehe. Masa-masa begadang, wajah serius saat belajar, pulang dari kampus dengan lesu ataupun antusias menceritakan soal-soal imtihan, dan menanyakan jawaban-jawaban betul atau tidaknya. Khusus menanyakan jawaban, itu cuman berlaku buat saya. Karena kalau suami, sepertinya tidak mungkin dia bertanya betul tidaknya jawaban dia ke saya. Hahaha. Mana saya pahamlah ._. untuk saat ini tapinya. Insya Allah kalau terus belajar akan paham di masa depan. Hoho.

Saya hanya berdoa semoga imtihan-imtihan selanjutnya, saya dan suami terus bisa saling mendukung, membantu, bekerjasama dan menyemangati satu sama lain. Baik itu imtihan di kampus maupun imtihan kehidupan yang tentunya mebutuhkan kerjasama, kekuatan dan kesabaran yang lebih dan lebih. J 


Selasa, 28 Oktober 2014

Who am i , today?





Tadinya tulisan ini ingin saya tempatkan di profil blog, tapi karena sepertinya kepanjangan (haha), jadilah saya membuatnya menjadi satu postingan baru. 

Menuliskan tentang siapa diri kita hari ini, adalah cara yang yang lumayan baik untuk mengenal siapa diri kita. Membandingkannya dengan tulisan di hari kemarin, kita bisa melihat perubahan-perubahan yang terjadi dalam hidup kita. Baik itu dengan jarak sebulan, setahun, atau bahkan bertahun-tahun.

Ini sudah menjadi kebiasaan saya sejak kecil. Menuliskan bagaimana saya hari ini, pengalaman-pengalaman yang baru saya lalui, dengan begitu saya bisa menakar, seberapa banyak saya bersabar atas ujian yang Allah berikan. Seberapa sering saya bersyukur atas semua nikmat yang telah Allah anugerahkan, seberapa ikhlash? adakah saya berjuang lebih keras dari sebelumnya, adakah cita yang berserakan itu mulai tersusun, adakah niat itu masih selalu tertanam di dalam hati, atau malah hanya keluhan yang terus ada? penundaan yang tak hilang-hilang juga, dan satu lagi, sudahkah saya mengobati problem ter "menyebalkan" dalam keseharian saya yaitu,  "TIDUR" -_______________-

Siapa saya hari ini?

Hanya anak 17 Tahun. Yang sudah menikah setahun lebih yang lalu, Merantau, kemudian terdampar di benua afrika, di sebuah negeri bernama Sudan. Tetiba menjadi anak ibukota (Ibu kota sudan, Khartoum :P). Mahasiswi Ma’had Lughoh International University Of Africa. Sehari-hari jalan kaki ataupun naik reksya (kalau panasnya lagi luar binasa) pulang balik rumah-kampus-rumah. (Bagi orang afrika, jaraknya sangat dekat. Tapi bagi asia kurus seperti saya, itu lumayan. -_-)

Saat musim panas, akan terasa sangat menyengat bagai dipanggang. Saat musim dingin akan sangat menusuk, kering, dan menggigil, dengan angin yang lebih kencang dari biasanya, terkadang jadi sedikit memperlambat perjalanan pulang. Tapitapi, mau musim panas atau dingin, GHUBAR (Badai pasir/debu) tetap saja eksis. Tampak dari covernya hanya ada 2 kata yang sangat cocok untuk menggambarkan tanah rantau ini, Cuaca Ekstrem.

Tapi percaya tidak percaya, ada banyak hal-hal menakjubkan yang akan kita dapatkan saat hidup di negeri ini. Belajar untuk selalu bersyukur dan bersabar, Berbahagia atas hal sederhana, adalah saat-saat terindah yang saya rasakan. Bertemu dengan beragam manusia dengan bahasa dan warna kulit berbeda, mereka datang dari berbagai penjuru dunia dengan tujuan terbanyak dan terfavorit; “belajar agama, belajar bahasa arab” dengan metode dan sistem pembelajaran bahasa yang tak neko-neko, namun nyatanya menjadi salah satu yang terbaik di dunia internasional, menarik banyak pelajar untuk menyicipi rasa akan menuntut ilmu di negeri Sudan.

Nah, pertanyaanya adalah, adakah yang mau mencoba jadi anak SUDAN(G)? Insya Allah dijamin akan berkesan. Yang tidak bisa dijamin adalah, tampang dan warna kulit anda setelah pulang dari negeri rantau ini. Hohoho. :D

Nah lho, ini kok jadi bahas Sudan? haha..

Yah. setahun lebih telah berlalu semenjak pertama kali menginjakkan kaki di sudan. Saya tetap saja kurus, malas makan, dan suka begadang. Alhamdulillah tak sedikit pun saya menyesal belajar jauh-jauh ke negeri ini, sebaliknya saya justru sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari penuntut ilmu di negeri ini, bertemu dengan ustadzah-ustadzah luar biasa yang sangat saya cintai. 

Teman-teman yang telah  mewarnai kehidupan saya, terkhusus 3 teman duduk absurd yang ngangenin, Maymunah si China, Ayha si Jepang, dan Yasmin si Hungaria. belum lagi teman-teman Nigeria yang selalu asyik diajak diskusi. Seorang teman Somalia-Irlandia yang menjadi teman untuk saling tasmi' hafalan, teman dari Scotlandia yang kegemarannya setiap waktu isirahat minta di tahsinkan, dan ini menjadi trend dikala mendekati ujian. Satu persatu teman-teman mendaftarkan diri untuk di tahsin. Bahkan jika tak ada waktu banyak, mereka bela-belain nitip untuk direkamkan. Kadang baru saja saya sampai di kelas, bangku saya sudah duluan penuh. Ckckc. Tak terlupa ketua kelas dari Camerun yang tadinya saya pikir sangar namun ternyata baik. Dia juga ikut minta direkamin. Nah kebetulan sekali saya perlu beberapa catatan ta’bir, saya pinjamlah dari dia. Barter, beres kan.

Pernah juga teman dari Indonesia mengenalkan teman Korea, saat pertama kali kenalan saya dengan sok tau tetiba berbahasa korea "Anyeong haseyo oenni, nan aisyah imnida.." hahaa..dia kemudian langsung memabalas dengan bahasa korea pula! Nah. Baru tau rasa, akibat sok tau. Cuma negelongo kemudian mengakui, heheh ”afwan, ana maa fahimtu.”

Tak terlupa, dan tak kan tentunya (insyaAllah), teman-teman sesama indonesia. Yang selalau bisa menghibur dikala sedih, membuat saya merasa memiliki keluarga di negeri ini, teman-teman dimana saya merasa nyaman bersama mereka. Menjalin silatrurrahmi, membangun ukhuwah, ta’awun, berbagi bahagaia dan kesedihan. Saya hanya ingin menyampaikan buat teman-teman sesama indonesia, syukran wa jazakumullahu khairan untuk semua kebaikan yang telah kalian berikan buat saya. Hanya Allah yang dapat membalasnya. Semoga ikatan ukhuwah ini senantiasa terjalin sampai kapanpun dan dimanapun kita akan pergi dan saling meninggalkan. #Aseek

Adapun Bahasa Alhamdulillah sudah lumayan membaik. Setidaknya saya bisa bercakap dengan ammu2 penjual di suuq atau di baqqolah,  ammu2 reksya (Hahaa!), teman-teman, ustadzah, kenalan, dll. disini saya benar-benar semakin memahami betapa pentingnya sebuah bahasa termasuk bahasa tubuh. Lewatnya kita bisa mengerti dan mereka pun bisa mengerti, alhamdulillah

Alhamdulillah juga sudah lumayan bisa masak, meski pada awalnya saya takut meracuni orang lain berhubung setiap main cooking academy pasti yang muncul dibalik penutup hidangan adalah obat sakit perut. haha. Memang tak sulit, memasak itu menyenangkan terutama saat saya lagi kangen masakan ummi, dan minta resep lewat Whats app, jadilah saya bereksperimen.


Tak ketinggalan seabrek rutinitas IRT. Tentu saja. Tak perlu penjabaran. Semua orang mengerjakannya, hehe. Hanya saja di sudan, mungkin kita butuh lebih rajin membersihkan. Maklum, debunya yang over memang seringkali membuat rumah lebih cepat kotor dari biasanya. Bagi saya, pekerjaan IRT memang sangat penting, tapi jangan sampai melalaikan kita dari belajar (Sok rajin). Bukankah pekerjaan2 yang lain itu hanyalah penunjang walau tentu juga penting. Nah, ini yang harus saya biasakan, kadang-kadang saya terlalu over beres-beres rumah, penyebabnya adalah saya tidak bisa belajar dengan keadaan sekitar yang kotor (sok bersih), akibatnya kadang setelah beres-beres justru kecapekan, dan yaah lagi-lagi, tidur jadi pelampiasan. :p

Yaah, apapun itu tentang kehidupan disudan, memang selalu menarik untuk diceritakan maupun dituliskan. Mungkin karena negeri ini telah begitu banyak mengajarkan saya akan arti kehidupan. Ada banyak ujian yang Allah berikan di negeri ini, begitu pula Nikmat tak terkira, saya diajar untuk bersabar sekaligus beryukur dalam setiap kondisi dan keadaan. Adakalanya saya tejatuh, menangis, dan merindu, namun tak 
sedikit pula saya menjalani hari dengan penuh semangat, senyuman, keceriaan, dan optimisme.

Seperti inilah secuil dari cerita kehidupan di sudan dari sisi saya, kita memang perlu kekuatan, keteguhan, keberanian, semangat, mujahadah dan azzam yang kuat untuk bisa bertahan dalam berjuang menuntut ilmu di negeri ini.

“Kita diajarkan untuk tidak hanya tersenyum karena bahagia, tapi juga tersenyum untuk bahagia.” Tak ada ada yang terlalu sulit jika kita mau mencoba untuk menjalaninya, mencoba melihatnya menjadi sesuatu yang mudah. Biidznillah..:)

Dengan sangat terasa, setahun lebih telah berlalu. Kini saya memasuki tahun kedua, bagai lembaran baru yang belum terisi dan akan segera terisi insyaAllah. Satu hal yang tidak pernah saya duga selama setahun ini adalah bahwa, tahun kedua ini, Kakak labil saya *eh Kakak Icha, akan ikut bergabung dalam barisan para perantau, pejuang, dan penuntut ilmu di negeri dua nil ini #aseek.

Kebersamaan saya dengan kakak selama beberapa hari terakhir ini adalah hal yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Alhamdulillah... Allah punya rencana dibalik semua kejadian yang telah terjalani setahun ini. Dihari-hari pertama kakak saya disini, dia sudah menyaksikan dan merasakan sendiri, betapa “Hangatnya” hari-hari di sudan. Terutama di hari-hari awal kedatangan, dimana saya yakin bahwa setiap mahasiswi baru bahkan yang sudah kadaluarsa pun pasti merasakannya, “Beratnya Ijro’’at” haha. Tapitapi, Janji Allah itu Pasti. Kemudahan setelah kesulitan. Semoga  Allah menguatkannya. Saya yakin Biidznillah, dia lebih dari sekedar bisa untuk menapaki jalan ini.

Tadinya saya ingin menulis tentang siapa saya hari ini, namun seiring bertambahnya tulisan saya di page ni, saya menyadari, saya hari ini adalah saya yang berada disudan. Dengan berbagai cerita dan warna, saya disudan, di negeri sederhana ini. Berjuang untuk satu tujuan mulia insyaAllah, menuntut ilmu, mendampingi dia yang telah Allah takdirkan untuk menjadi pasangan hidupku. Juga untuk yang tak terduga, menemani kakak yang lagi masa penantian menunggu suami dan krucil2 nya datang, berpetualang mencari pengalaman hidup, belajar dan terus belajar. Inilah siapa saya hari ini, Masih kurus, malas makan dan suka begadang. J

TBC... 

Khartoum, lupa tanggal berapa.

Aisyah Ikhwan Muhammad. 
Kamis, 17 Juli 2014

Because Allah Knows...:)



Hari-hari telah banyak berlalu..
menyisakan begitu banyak hal yang mesti kita pilah, antara membuangnya jauh-jauh, atau membiarkannya sebagai kenangan. Kenangan yang bisa membuat kita tersenyum, atau bahkan menangis terisak.

Setiap kita pernah mengalami masa2 krisis dalam kehidupan..
Mungkin saja masa paling krisis seumur hidup kita, hanya Allah yang tahu.
Ingin ku berbicara padamu,

Tidakkah kau menyadari, bahwa setiap keadaan ini justru  membuatmu banyak belajar dan memaknai setiap hal-hal sederhana, membuatmu menyadari siapa kau ini? Hanya seonggok manusia penuh dosa yang hanya suka mengeluh pada keadaan! Menangis dan menangis. Terjatuh dan terjatuh.

Sesak memang, tapi bisakah kau membuka matamu? Pandangilah orang-orang itu, pejuang dan bocah2 di palestina, suriah, dan di berbagai belahan dunia ini, tak bisa kah kau berhenti menutup mata? Sungguh, betapa masa ini telah memuatmu sadar, ada begitu banyak jiwa-jiwa tangguh di sekitarmu yang seharusnya kau dapat mengambil pelajaran dari mereka.

Setiap orang memiliki ujiannya tersendiri. Ia diuji dari sisi yang mungkin tak terlihat oleh orang lain namun begitu ia rasakan. Maka cobalah untuk senantiasa bersyukur atas apa yang Allah telah berikan padamu. Meski terasa pahit diawal, belum tentu ia akan pahit selamanaya. Allah Knows!

Meski tak bisa di pungkiri, momen-momen silih berganti layaknya siang dan malam. Ada saat dimana kau mampu tersenyum, saat kau lagi-lagi harus menangis, dipaksa untuk merasakan sakit di dalam hatimu. Setiap detik yang kau alami terasa begitu nyata. Kadang ingin kau coba untuk menampar dirimu sendiri, memastikan kebenaran semuanya. Saat kau lihat senyuman merekah teman-temanmu,  kau justru meneteskan air mata. Ingin rasanya kau bergabung bersama mereka, namun sekali lagi, Allah knows. Siapa yang tahu dengan senyuman itu mereka tak memiliki beban?  Hanya Allah.

Terkadang rasanya terlihat sangat berat dan melelahkan, namun semuanya kembali membuatmu tersadar, bahwa kekuatan itu datangnya dari Allah. kau bukan siapa2! Mengapa kau selalu mengandalkan dirimu yang lemah? Saat itu kau kembali. Meminta padaNya. Dan disaat itu pula kau menyadari, bahwa dengan ujian manusia akan lebih dekat kepada Allah.

Seseorang pernah berkata, “Jika kita ingin menjadi orang yang luar biasa, maka kita pun harus rela berjuang untuk menjalani kehidupan yang juga tidak biasa”

Bukankah kau memiliki begitu banyak cita dan mimpi yang mengawan tinggi? Terlihat sulit untuk digapai, namun siapa yang tahu bahwa dengan semua ini kau justru semakin mendekat? Hanya Allah yang tahu. Tugasmu adalah memastikan, bahwa kau berada di jalur yang diridhoi Allah.

Ya, mungkin memang benar, kau harus melewati hari sulit ini, agar mampu melangkah ke hari-hari esok yang penuh harapan insyaAllah. Kau tak perlu berjanji untuk tak menangis! Karena semua orang juga tahu, you cry like a pro! Yang harus kau tekadkan adalah, untuk tetap berpegang teguh diatas jalan yang diridhoi Allah, sekencang apapun angin bertiup, sebesar apapun ombak menerjang, cobalah untuk selalu tegar menghadapi semuanya. Karena kau tahu dan yakin, apa yang kau hadapi tak pernah bisa dibandingkan dengan apa yang pejuang-pejuang di muka bumi ini hadapi.

Adapun ocehan-ocehan tak berguna disamping kiri kananmu, bisaka kau kau cukup menutup telinga? Biarlah mereka mengatakan apa yang ingin mereka katakan seakan itu penting dan berpengaruh, namun sejatinya tidak sama sekali.

Cobalah untuk menjadi berani, berdoa meminta petunjuk demi keputusan yang benar untuk mengambil langkah. Dan setelahnya tak ada ruang untuk penyesalan, just keep moving forward.

Cobalah untuk menjadi orang yang dipenuhi rasa syukur. Penuh semangat dan optimisme. Cobalah kembalikan kepercayaan dirimu. Kembalilah menjadi sosok yang kukenal. Jadilah penyabar yang berhati lembut. Dan yang terpenting, cobalah untuk selalu tersenyum, meghadapi segalanya tanpa rasa takut.

Karena Allah bersama orang2 yang bersabar,
Karena Allah Tahu..
karena Allah Maha Mengetahui.
J

Setelah semua ini berakhir, bahkan jika semua ini tidak juga berakhir. Tetaplah berharap, akan setitik cahaya terang di ujung jalanmu.
Allah Knows, syah. :D

Unknown.
Minggu, 04 Mei 2014

Dengan apa saya berbakti?



Setiap kali berbicara mengenai kedua orang tua, tak ada hal lain selain haru mengingat segala perjuangan, pengorbanan dan jerih payah mereka dalam mengarungi kehidupan, membesarkan dan mendidik putra-putrinya dengan penuh cinta dan kasih sayang.

Hingga hari ini saya masih terus menangis dengan “jabe”nya ketika mengingat mereka. Baik ketika saya berada dekat dengan mereka, terlebih lagi ketika saya berada jauh, terpisah oleh jarak dari ummi dan aba.

Hari ini seperti biasanya, menjalani rutinitas sehari-hari, berangkat kuliah, naik reksya bersama suami, tak lupa membayar sejumlah pound sebelum turun dari reksya. Selanjutnya menyeberangi jalan raya 2 arah untuk kemudian sampai ke jami’ah ifriqiyah banat. Atau yang lebih kerennya, International University Of Africa. Hehe.

Tiba sejam sebelum masuk kelas nyatanya menjadi sangat bermanfaat. Langsung saja saya masuk ke dalam perpustakaan, bertemu teman yang sejak kemarin telah janjian, kemudian dengan segera mengeluarkan buku2 dan alat tulis untuk menyalin beberapa materi yang belum saya dapatkan.

Sejuknya ruang perpustakaan membuat saya tak menyadari waktu yang terus berlalu, hingga pukul 13.24  barulah saya menyadari, bahwa 6 menit lagi pelajaran akan segera dimulai. Saya dan temanpun bergegas keluar dari perpustakaan dan langsung berjalan menuju kelas. sungguh perbedaan udara yang sangat siginifikan. Di kelas panas terasa sangat menyengat sedang di perpustakaan tentu saja sejuk dan adem, bagaiamana tidak, Ac dengan indahnya nangkring di sudut-sudut ruangan. Namun inilah ujian dalam menuntut ilmu. Ujian yang tentu (catat: Sangat-sangat!) tak seberapa dengan ujian yang dihadapi para penuntut ilmu di zaman2 terdahulu

Pelajaran pertama dimulai, Al Qur’an. Seperti biasa ustadzah akan menyuruh salah satu dari kami untuk membacakan surah yang akan dihafalkan, baru kemudian tholibaat lain nya akan membaca setelahnya. Di indonesia kita tentu sudah tak asing dengan tahsinul qira’ah.

Pelajaran Al Qur’an hari ini berjalan dengan lancar. Kebetulan saat itu giliran saya yang mentahsin teman2 sekelas. Saya dan salah seorang teman memang diamanahkan untuk bergiliran mentahsin teman sekelas. Terkadang jika ustadzah tak masuk kami akan bergiliran menggantikan ustadzah mengajarkan Al Qur’an.

Hingga pelajaran pun berganti. Pelajaran kedua adalah ta’bir. Ustadzah kemudian masuk ke kelas setelah beberapa menit waktu istirahat. Tak seperti biasanya tholibat dari kelas lain ikut bergabung di kelas kami. Ternyata hari ini kami memiliki materi pelajaran yang sama “BIRRUL WALIDAIN”

Ustadzah yang satu ini memang terkenal kreatif. Ia lebih suka mengajar dengan cara yang variatif. Seperti hari ini ia membuat semacam perlombaan, dan membagi kami dalam 2 kelompok. Setiap kelompok akan naik satu orang perwakilan untuk berbicara mengenai birrul walidain. Begitu seterusnya bergantian kelompok 1 dan 2. Selanjutnya ustadzah akan memberikan nilai pada masing-masing pembicara yang kemudian akan menjadi nilai untuk kelompok mereka.

Pembicara pertama, ia menceritakan kesehariannya saat ia berada di negaranya. Bagaimana ia membantu umminya di rumah. Bagaimana ia mengkhidmat kedua orangtuanya saat sehat maupun sakit. Saya yang mendengar entah kenapa ikut membayangkan hari-hari ketika di indonesia. Pekerjaan sehari-hari yang terlihat sepele namun nyatanya dapat menjadi bagian dari bakti kita kepada kedua orangtua. Pembicara selanjutnya juga sama. Ia banyak menceritakan kesahariannya ketika bersama kedua orangtua.

Hingga sampai kepada salah seorang pembicara dari kelompok kami, ia berbicara dengan lancar masyaAllah. Ia cukup berbeda, ia menyampaikan bagian dari baktinya kepada kedua orangtua adalah ketika ia membangunkan kedua orangtuanya untuk sholat subuh berjamaah. Ketika ia berusaha untuk mengajarkan islam kepada ayahnya yang ternyata masih non muslim. Namun ia bersyukur sebab ibunya adalah muslimah. Ia bersedih ketika melihat ayanya yang membaca injil sementara ibunya membaca Al Qur’an. Ia menangis saat menceritakan bahwa ayahanya menganggap tuhan adalah yesus. Sambil tersedu2 ia menyampaikan, bahwa bagian dari birrul walidainnya adalah ia berangkat ke sudan atas restu ibunya, untuk mempelajari islam, kemudian pulang ke negaranya untuk mendakwahkan islam pada ayah dan keluarganya, Insya Allah.

Subhanallah... betapa banyak yang harus kita sadari! Terutama dan paling utama adalah saya sadari! Kesyukuran yang teramat sangat adalah bahwa kita mendapati diri kita terlahir sebagai muslim/muslimah, kedua orangtua, sanak keluarga adalah muslim/muslimah. Subhanallah. Pelajaran yang sangat berharga. Sedangakan muslimah yang ayahnya kafir saja, rela berjuang untuk mendakwahkan islam kepada ayahnya, dan dengan itulah ia berbakti. Lalu bagaiamana kita dengan kita yang memiliki orangtua yang jelas muslim/muslimah, dengan apa kita berbakti!? Dengan apa saya berbakti!?

Pertanyaan pertanyaan itu menohok tak henti dalam lamunan ku, hingga bisikan-bisikan dari teman-teman sekelompok akhirnya menyadarkan saya. Ternyata giliran sudah kembali sampai pada kelompok kami, dan teman-teman tak hentinya mendorong saya untuk maju kedepan. Mau tak mau saya kemudian bangkit dari duduk dan berjalan ke depan. Yah, dengan bahasa arab pas-pasan apa yang akan saya sampaikan?

Ustadzah terlebih dahulu mennyampaikan bahwa saya adalah pembicara yang terakhir. Saya kemudian mulai berbicara sambil membayang kan wajah ummi dan aba. Salam lalu menjadi pembuka dan awal dari kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut saya. Sekali lagi membayang kan perjuangan mereka, peluh dan kerja keras mereka! Dengan apa saya berbakti?? Tak terasa air mata  menetes tanpa diperintah, bahkan saat saya paksa ia untuk berhenti, ia tak juga berhenti. 

Sambil berusaha menahan tangsi, saya mencoba untuk berbicara di depan ustadzah dan tholibat...

Saat di indonesia, mungkin ada banyak hal yang bisa saya lakukan untuk mereka. Seperti membantu mereka dalam pekerjaan harian. Mengkhidmat mereka saat mereka butuh. Menemani mereka dalam bekerja dan berdakwah di jalan Allah. Membersamai mereka dalam perjuangan membumikan Al Qur’an. Saya dan saudara2 saya menjadi saksi betapa mereka jatuh bangun dalam perjuangan  di jalan dakwah, juga saat mereka baru mulai merintis  Daurah 40 hari menghafal Al Qur’an, hingga hari ini ketika telah banyak orang di negeri indonesia yang telah mengenal Daurah dan tersinari akan indahnya cahaya Al Qur’an dengan Izin Allah.

Namun ketika saya jauh, saat saya kembali ke negeri ini, Sudan. Dengan apa saya berbakti? Bagaimana saya membantu mereka?

DOA! Doa adalah kunci utama. Doakan mereka disetiap sholat dan waktu2 mustajab. Doakan mereka dengan doa2 terbaik dan terkhusyuk yang kita bisa. Doakan mereka untuk diberikan kesehatan dan penjagaan terbaik dari Allah subhanhu wata’ala. Agar kita dikumpulkan di jannahNya kelak insyaAllah

Kemudian setelah itu, hafalkanlah Al Qur’an. Saya tahu dan saya sadar, saya masih terus dalam tahap murojaah. Hafalan saya masih amat sangat dhoif. Namun saya ingin terus berjuang untuk mengitqankan hafalan ini, agara dapat menjadi syafaat di akhirat kelak. Menyaksikan mereka dipakaikan mahkota dan jubah kemuliaan, adalah cita-cita mulia yang saya tambatkan di sini, di dalam hatiku.

Kemudian setelah itu, belajar dengan sungguh-sungguh! Menuntut ilmu tanpa kenal lelah. Di perantauan ini, adakalanya saya merasa down, adakalanya saya merasa tak mampu. Seperti saat saya harus ketinggalan pelajaran selama 2 bulan lebih, dikarenakan kepulangan saya untuk berobat dan mengurusi berbagai kepentingan lainnya, dengan imtihan yang tinggal 2 pekan lagi. Namun kembali ummi dan aba meyemangati! “Ijtahidy yaa Aisyah!” kalimat itu bagaikan kalimat mutira yang terus saya bawa kemanapun saya melangkah. Mereka adalah motivator luar biasa. Hingga sekali lagi saya menyadari, betapa perjalanaan saya dalam menuntut ilmu ini adalah bagian dari birrul walidain. Mungkin saya jauh dari mereka. Namun dengan inilah saya berbakti Insya Allah. Maka dengan itu niat untuk belajar dengan sungguh-sungguh semakin tertancap di dalam hati.

Saya kemudian mengakhiri pembicaraan saya, sembari mengusap bekas air mata yang dengan “lebay” menetes tanpa diminta. Saya melihat teman-teman yang lain ikut menangis, mata mereka memerah, mungkin membayang orangtua mereka masing-masing. ustadzah kemudian berterima kasih kepada saya sambil tersenyum, beliau lalu membacakan doa kepada kedua orangtua dengan khidmat, diakhiri dengan ucapan “aamiin” dari seluruh tholibat yang ada di kelas.

Subhanallah, betapa indahnya Birrul Walidain. Ia menjadi kewajiban bagi setiap diri kita tanpa terkecuali. Baik saat kita berada dekat dengan mereka, atau saat kita masuk dalam barisan para perantau. Untuk teman2 yang sedang menunutut ilmu, jauh dari orang tua, percayalah, selalu ada jalan untuk kita berbakti pada orangtua. Seperti mendoakan mereka, belajar bersungguh2, atau bahkan menyisihkan uang saku demi membeli pulsa untuk menelepon mereka ditanah air. Mungkin saja mereka sedang sedih. Mungkin saja mereka sedang rindu dengan anak-anaknya yang kini jauh dari mereka.

Indah bukan, ketika kita bisa mendengar suara mereka? Itulah yang saya rasakan. Mendengar mereka melantunkan kalimat-kalimat nasehat membuat saya selalu tersenyum, bahkan terkadang menangis tertahan, lalu kemudian menyadari, lagi..lagi, dan lagi! Betapa berartinya orangtua dalam kehidupan ini. Hingga ikut tersadar, lagi..lagi, dan lagi! Betapa banyak DOSA yang telah saya perbuat kepada mereka. Astaghfiruka ya Allah...:’(

Hari ini, di negeri rantau ini, dengan panas yang kian menghempas, sungguh! Pun dengan ghubar yang merengsek masuk hingga ke paru-paru, saya hanya ingin menyampaikan kepada diri saya sendiri, bahwa MENYERAH BUKANLAH PILIHAN!

Ummi aba..Terima kasih untuk semuanya, segalanya, seluruhnya! Maafkan anakmu ini yang telah begitu banyak melakukan DOSA  kepada kalian. semoga dengan langkah demi langkah yang anakmu ini tapaki di negeri sudan, dapat menjadi bagian dari baktinya kepada kalian, Ummi aba. Anakmu ini, sungguh sangat mencintai kalian karena Allah. J


Who am i?

Foto saya
Khartoum, Al Khartoum, Sudan
Ikhwan's No.3 | Fakhrurrazi's 💍| Cintanya Al amin Muhammad| Student Mom yang menikah di usia 16 dan masih terus belajar menjadi Ibu, Istri, dan anak yang sholihah.

Followers